BANJARMASIN, klikkalsel.com – Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Kota Banjarmasin akibat kabut asap menjadi sorotan setelah Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banjarmasin mengundang Palang Merah Remaja (PMR) dari sejumlah sekolah untuk mengikuti upacara HUT ke-81 PMI.
Upacara tersebut dijadwalkan berlangsung di halaman Balai Kota Banjarmasin. Dalam undangan kegiatan, sejumlah anggota PMR dari tingkat SD, SMP, MTs hingga SMA sederajad tercantum sebagai peserta.
Kondisi ini pun mendapat perhatian karena di saat yang sama aktivitas belajar mengajar tatap muka di Banjarmasin dihentikan sementara dan dialihkan ke PJJ akibat kualitas udara yang memburuk.
Berdasarkan data indeks kualitas udara pada Jumat (18/9/2026) konsentrasi PM2.5 di Banjarmasin berada di angka 143 dan masuk kategori tidak sehat.
Artinya, terdapat pertimbangan kesehatan yang membuat pemerintah meminta aktivitas pendidikan tatap muka dihentikan sementara.
Namun, di sisi lain, pelajar justru tercantum dalam undangan untuk mengikuti kegiatan di luar sekolah.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Banjarmasin, Neli Listriani, menilai kegiatan yang tidak mendesak semestinya dipertimbangkan untuk ditunda jika pelaksanaannya berpotensi bertentangan dengan imbauan pemerintah terkait kondisi kabut asap.
“Kalau bukan acara yang mendesak baik nya ditunda, karena bertolak belakang dengan himbauan pemerintah,” ucapnya.
Menurut Neli, kebijakan PJJ diberlakukan untuk mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah dan melindungi mereka dari paparan udara yang tidak sehat.
Baca Juga : Tiga Raperda Disetujui dalam Rapat Paripurna DPRD Tanah Bumbu
Baca Juga : Lensa Foto Kegiatan DPRD Banjarmasin Bulan September 2026
Karena itu, ia mempertanyakan relevansi mengumpulkan pelajar untuk kegiatan di luar sekolah ketika pembelajaran tatap muka justru dihentikan sementara.
“Anak-anak stop sekolah, kenapa mengadakan acara di luar sekolah. Kan tidak mengikuti anjuran pemerintah,” tegasnya.
Neli juga mengingatkan agar kebijakan PJJ tidak hanya berhenti pada perubahan metode belajar. Pengawasan terhadap pelajar juga dinilai penting agar mereka tetap mengikuti pembelajaran secara maksimal dari rumah.
“Untuk anak-anak yang PJJ juga handak nya guru-guru bisa mengawasi dengan baik bahwa anak-anak Benar-benar mengikuti pelajaran dengan maksimal,” imbaunya.
Bahkan kemarin Pemko Banjarmasin mengambil keputusan meniadakan kegiatan Hari Jadi ke-500 yang bersifat hiburan dan kemeriahan.
Keputusan itu disampaikan Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin. Pertimbangannya antara lain kondisi kabut asap akibat karhutla, gangguan kualitas udara dan kesehatan, kekeringan serta persoalan air bersih, hingga musibah tenggelamnya KM Virgo Transport 8.
Dalam kondisi tersebut, pelaksanaan kegiatan yang melibatkan pelajar menjadi perhatian tersendiri. Apalagi, peserta yang diundang merupakan anak-anak yang pada saat bersamaan tidak menjalani pembelajaran tatap muka di sekolah.
Neli menilai kondisi tersebut membuat kegiatan yang melibatkan pelajar perlu dipertimbangkan kembali.
“Kurang pas kalau mengundang anak-anak sekolah, karena posisi sekolah anak-anak masih saat PJJ,” tandasnya.(fachrul)
Editor: Amran






