Dari Jurnalistik ke Musik, Puja Mandela Hadirkan Lagu Bergenre Folk tentang Kenangan Kota yang Membesarkannya

Puja Mandela, jurnalis sekaligus musisi yang mulai merilis lagu-lagu ciptaannya sejak 2025.

BATULICIN, klikkalsel.com – Musisi sekaligus jurnalis Puja Mandela menghadirkan karya terbaru berjudul “Batulicin”, sebuah lagu folk yang lahir dari ingatan tentang kota yang membesarkan dirinya. Bukan sekadar lagu tentang sebuah daerah, “Batulicin” menjadi perjalanan pulang ke masa kecil, keluarga, persahabatan, hingga denyut kehidupan yang membentuk seseorang.

Melalui lirik yang mengalir sederhana, Puja mengajak pendengar menyusuri Batulicin pada era 1990-an. Potongan-potongan kenangan itu hadir lewat gambaran panggung musik anak muda, rental PlayStation bertarif Rp2.000 per jam, aroma laut yang dibawa angin, jalan berlumpur saat hujan, debu yang beterbangan ketika musim kemarau, para perantau yang datang membawa harapan, hingga kisah dua insan yang kembali dipertemukan di sebuah dermaga.

“Batulicin mungkin bukan tempat paling nyaman untuk tinggal, tapi ia sudah menjadi kota kecil yang menghidupi, dan terus tumbuh hingga hari ini,” ujarnya, Jumat (24/7/2026).

Pria kelahiran Banjarmasin, 13 April 1989, itu mengaku Batulicin menyimpan jejak kehidupan paling penting dalam perjalanan hidupnya.

Salah satu tempat yang paling membekas baginya adalah kawasan Pasar Lama Batulicin, kampung halaman almarhum ibunya. Di kawasan itulah banyak kenangan masa kecil, kehidupan keluarga, persahabatan, hingga pengalaman-pengalaman sederhana tersimpan dan kemudian menjelma menjadi inspirasi utama lagu tersebut.

Dalam proses produksinya, Puja memainkan sendiri gitar, harmonika, sekaligus mengisi vokal. Sementara proses rekaman, mixing, dan mastering dipercayakan kepada Prima Yuda Prawira. Menariknya, seluruh pengerjaan lagu itu diselesaikan hanya dalam waktu sekitar tiga jam.

Baca Juga : Puja Mandela Rilis “Cerita yang Lalu”: Balada Reflektif di Tengah Dunia yang Terluka

Baca Juga : Bupati Tanah Bumbu Resmikan Kantor Rumah Pena, Dorong Program Literasi Kreatif

Alih-alih menampilkan romantisme kampung halaman secara berlebihan, “Batulicin” justru memotret kota itu apa adanya. Kota yang mungkin tidak sempurna, tetapi menjadi ruang bertumbuh bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.

Kekuatan lagu ini juga terletak pada cara Puja merangkai cerita melalui detail-detail kecil. Hampir setiap bait menghadirkan suasana baru sehingga lagu terasa seperti film pendek yang membawa pendengar berpindah dari satu kenangan ke kenangan berikutnya.

Salah satu bagian yang paling mencuri perhatian berbunyi, “Setengah lima/di samping jendela/ibu memasak/ayah di mana?” Empat baris singkat itu justru menghadirkan ruang tafsir yang luas dan meninggalkan kesan emosional.

Tidak seperti lagu pada umumnya, “Batulicin” nyaris tanpa pengulangan lirik hingga menjelang akhir. Repetisi baru muncul pada penutup lewat kalimat “Di Batulicin, kita bertemu,” yang menjadi penanda sekaligus penutup perjalanan penuh kenangan tersebut.

Melalui lagu ini, Puja berharap “Batulicin” tidak hanya menjadi kisah tentang sebuah kota di Kalimantan Selatan, tetapi juga mengajak siapa pun untuk kembali mengingat kampung halaman, masa muda, dan orang-orang yang pernah memberi makna dalam hidup.

Lagu “Batulicin” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital seperti Spotify, YouTube Music, dan Apple Music. Sementara video musiknya dapat disaksikan melalui kanal Puja Mandela Official di YouTube. (rizqan)

Editor: Abadi