BANJARBARU, klikkalsel.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) masih menjadi momok. Meski kobaran api di permukaan tanah sudah tak terlihat, kepulan asap masih terus menyeruak dari kedalaman lahan gambut.
Fakta di lapangan ini ditemukan langsung oleh Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni saat meninjau sejumlah lokasi karhutla di Banjarbaru, Minggu (23/8/2026).
Raja Antoni menjelaskan, lahan gambut memiliki karakter yang sangat rawan. Bara api bisa bertahan lama dan menjalar diam-diam di bawah tanah. Oleh sebab itu, proses pemadaman tidak bisa sekadar berpatokan pada hilangnya api di permukaan.
“Karena ini daerah gambut, memang tidak ada api di atas, tapi dari bawah masih ada asap,” ujar Raja Antoni saat meninjau penanganan karhutla di kawasan Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin.
Kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan lantaran titik api berada tak jauh dari permukiman warga. Lahan yang ditinjau Menhut ini diperkirakan mencapai 36 hektare. Statusnya adalah area non-kawasan yang berbatasan langsung dengan area hutan lindung.
Melihat kondisi itu, Menhut menginstruksikan tim pemadam untuk bekerja ekstra cermat. Proses pendinginan (mopping up) harus menyentuh kedalaman tanah agar bara yang tersisa benar-benar mati.
“Oleh karena itu pekerjaan ini harus dilakukan secara detail agar tidak ada muncul api lagi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Raja Antoni juga memberikan peringatan keras. Ia meminta masyarakat maupun pihak perusahaan berhenti membuka lahan dengan cara instan yang merusak.
Baca Juga : Kemenhut Kerahkan 1.000 Polhut ke Kalsel, Kalteng dan Kalbar untuk Perkuat Penanganan Karhutla
Baca Juga : Melonjak Pesat, ISPA di Kalsel Tembus 27.738 Kasus
Dia menegaskan praktik melanggar aturan tersebut ini tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga menyiksa warga sekitar dengan kabut asap dan menambah beban berat para petugas pemadam di lapangan.
“Jangan ada lagi petani atau perusahaan yang melakukan land clearing dengan cara membakar,” pesannya.
Di luar temuan gambut yang masih berasap, Raja Antoni juga menyoroti fluktuasi titik panas (hotspot) di wilayah Kalsel. Sempat turun drastis, kini jumlah hotspot kembali menunjukkan tren kenaikan.
Merujuk pada data Sipongi, ada sekitar 157 hotspot yang menyala pada 21 Agustus 2026. Angka ini sukses ditekan hingga hanya tersisa 11 titik pada malam keesokan harinya, Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 21.00 WITA.
Namun, pantauan satelit pada Minggu (23/8/2026) pagi menunjukkan titik api kembali melonjak menjadi 44 titik.
“Dari 157 turun menjadi 11, hari ini 44,” beber Menhut.
Puluhan hotspot tersebut kini tersebar merata di beberapa wilayah langganan karhutla, seperti Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan (HSS), hingga Kabupaten Tapin.
Menurut Raja Antoni, keberhasilan menekan hotspot sebelumnya tidak lepas dari kerja keras operasi gabungan yang memaksimalkan personel darat serta bantuan water bombing dari udara.
Ia pun berharap kewaspadaan terus ditingkatkan agar karhutla tidak kembali meluas, khususnya di bentang lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan. (rizqan)
Editor: Abadi






