BANJARMASIN, klikkalsel.com – Aksi demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalimantan Selatan (Kalsel) di depan Gedung DPRD Kalsel, Banjarmasin, berlangsung ricuh, Kamis (22/10/2026).
Empat pagar gedung DPRD roboh setelah terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat keamanan.
Kericuhan bermula ketika massa meminta masuk ke gedung untuk melakukan audiensi. Namun, pagar ditutup rapat dan dijaga ketat aparat.
Lantas sejumlah mahasiswa terlihat melompati pagar. Massa juga melemparkan sejumlah benda ke halaman kantor, mulai dari botol air mineral, bohlam, sandal hingga sepatu.
Ketegangan semakin meningkat ketika beberapa mahasiswa beradu argumen dengan polisi, karena menduga ada rekannya yang dipukul aparat. Lalu meminta polisi yang bersangkutan dihadirkan di hadapan massa.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan sembilan tuntutan, terutama terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), kabut asap, serta krisis multidimensi di Kalsel.
Massa mendesak pemerintah pusat menetapkan, Karhutla sebagai bencana nasional dalam waktu 3 x 24 jam serta membuka transparansi anggaran penanganan Karhutla.
Baca Juga : Humanis, Kapolresta Banjarmasin Bantu Gotong Pendemo yang Pingsan
Baca Juga : Berjuang Padamkan Karhutla, Relawan Damkar Banjarmasin Meninggal di Handil Bakti
Para pendemo juga menuntut layanan kesehatan gratis bagi masyarakat terdampak, evaluasi menyeluruh oleh Gubernur Kalsel terhadap penanganan karhutla, serta pencopotan kepala dinas terkait sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Selain itu, mahasiswa mendesak GM PT PLN UID Kalselteng menyelesaikan persoalan kelistrikan dalam dua minggu dan BPAM Banjarbakula menyediakan air bersih darurat secara gratis.
Mahasiswa turut meminta evaluasi izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, penindakan terhadap individu maupun korporasi yang sengaja membakar hutan atau lalai menangani karhutla di wilayah konsesinya, serta pengawasan tegas DPRD Kalsel melalui pemantauan lapangan secara berkala.
Massa juga mengajak berbagai elemen masyarakat, mulai dari pekerja, buruh, pedagang, pengemudi ojek daring, sopir truk hingga komunitas, untuk bersama-sama menyuarakan persoalan yang terjadi di Kalsel.
“Satu komando, satu perjuangan,” teriak massa.
Mahasiswa menyatakan, akan bertahan di depan Gedung DPRD Kalsel hingga tuntutan mereka dipenuhi. Hingga berita ini ditulis, situasi di lokasi masih belum kondusif.(azka)
Editor : Akhmad







