BANJARMASIN, klikkalsel.com – Gara-gara terpengaruh tren perkelahian di media sosial, seorang siswa SMP di Banjarmasin nekat mengajak teman sekelasnya berkelahi hingga korban tersungkur.
Aksi perkelahian antarpelajar tersebut terjadi di halaman salah satu sekolah di Kota Banjarmasin. Bahkan, peristiwa itu sengaja direkam untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat.
Kasus tersebut kini ditangani Satreskrim Polresta Banjarmasin setelah pihak keluarga korban tidak terima dengan tindakan yang dialami anaknya.
Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin, mengatakan pihaknya telah melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan sejumlah alat bukti, termasuk rekaman kamera pengawas atau CCTV serta keterangan saksi.
“Kami melakukan penyelidikan dengan mengamankan beberapa alat bukti, baik dari rekaman CCTV maupun saksi yang melihat kejadian, termasuk penjaga sekolah,” ujarnya.
Menurut Riza, kasus tersebut melibatkan anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), baik dari pihak terduga pelaku atau terlapor maupun korban.
Adapun ancaman hukuman dalam perkara tersebut mencapai satu tahun sembilan bulan penjara.
Mengingat kedua pihak masih berstatus anak atau ABH dan ancaman hukumannya di bawah lima tahun, kepolisian telah mengupayakan penyelesaian melalui mekanisme diversi.
Baca Juga : Gubernur Muhidin dan Kapolda Kalsel Uji Water Bombing Campur Surfaktan untuk Padamkan Karhutla
Baca Juga : Sambil Menyiapkan Salvage, PT Virgo Berupaya Evakuasi Jenazah dari Bangkai Kapal
Namun, upaya tersebut belum membuahkan kesepakatan lantaran keluarga korban tetap menginginkan perkara diproses secara hukum.
“Kami sudah melakukan upaya diversi, tetapi keluarga korban masih belum menerima. Sehingga proses hukum tetap dilanjutkan,” jelasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Eru Alsepa, mengungkapkan bahwa perkelahian tersebut dipicu keinginan terlapor mengikuti tren di dunia maya.
Terduga pelaku disebut ingin membuktikan siapa yang lebih kuat melalui perkelahian yang direkam dalam video.
“Motifnya karena yang bersangkutan terbawa tren di dunia maya tentang perkelahian antarteman. Tujuannya hanya ingin mengetahui siapa yang lebih kuat dengan cara direkam video,” ungkap Eru.
Menariknya, terduga terlapor diketahui mengikuti latihan bela diri. Berbekal kemampuan tersebut, ia kemudian mengajak teman sekelasnya untuk berkelahi.
Namun, ajakan itu ternyata tidak langsung diterima korban. Korban disebut sudah beberapa kali menolak tantangan tersebut.
Bukannya berhenti, terlapor justru terus memaksa hingga akhirnya terjadi perkelahian yang menyebabkan korban tersungkur.
“Korban sebenarnya sudah sering menolak ajakan berkelahi. Namun, terlapro terus memaksa hingga akhirnya korban tersungkur dan kejadian tersebut direkam dalam video,” bebernya.
Peristiwa itu kemudian diketahui keluarga korban. Tidak terima anaknya menjadi korban, pihak keluarga memilih menempuh jalur hukum.
Meski kepolisian telah berupaya menyelesaikan perkara melalui diversi, keluarga korban tetap meminta agar kasus tersebut diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Kini, penanganan perkara tersebut masih berlanjut di Satreskrim Polresta Banjarmasin dengan memperhatikan ketentuan sistem peradilan pidana anak. (airlangga)
Editor: Abadi







