BEM UI Turun ke Kalsel, Soroti Empat Bulan Kabut Asap Karhutla Hingga Pemadaman Listrik Bergilir

Aksi mimbar bebas BEM UI mengkritisi masalah kompleks yang melanda Kalsel.

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Empat bulan menghadapi krisis kabut asap, masyarakat Kalsel masih dihadapkan pada persoalan udara bersih, air bersih, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), hingga pemadaman listrik bergilir.

Kondisi tersebut mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) turun langsung menyuarakan persoalan yang dialami masyarakat Banua. Melalui aksi mimbar bebas bertajuk #KalselLumpuh, mereka menyampaikan kritik terhadap penanganan krisis yang dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan.

Aksi digelar di Bundaran Kayu Tangi, Banjarmasin, Jumat (16/10/2026). Sebelumnya, BEM UI bersama mahasiswa dan relawan lokal telah membangun rumah oksigen serta membagikan masker untuk membantu warga menghadapi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, mengatakan kehadiran mereka merupakan bentuk solidaritas mahasiswa UI bersama mahasiswa Kalsel terhadap masyarakat yang terdampak berbagai persoalan tersebut.

Menurutnya, penderitaan masyarakat yang berlangsung hampir empat bulan semestinya diikuti langkah konkret pemerintah. Namun, ia menilai belum ada perubahan berarti meski krisis telah berlangsung cukup lama.

“Kita melihat bahwa empat bulan bukanlah waktu yang sebentar. Bahkan sampai sekarang ketika kita bersolidaritas, ketika kita hadir untuk sama-sama saling membantu, tidak ada perubahan yang signifikan dari penguasa, dari pemerintah,” ucapnya.

Athof juga mengaku merasakan langsung buruknya kualitas udara ketika pertama kali tiba di Kalsel. Ia bahkan membandingkannya dengan kondisi polusi udara di Jakarta yang selama ini dikenal buruk.

Menurutnya, udara yang dihirup di Kalsel berbau seperti kebakaran dan membuat tenggorokan terasa perih. Pengalaman tersebut membuatnya membayangkan beratnya kondisi yang harus dihadapi masyarakat setempat selama berbulan-bulan.

“Saya di Jakarta itu tidak pernah batuk karena udara. Nah, ketika pertama kali mendarat di Kalimantan Selatan, saat turun dari pesawat, langsung menghirup udara yang rasa-rasanya tidak ada sebanding-bandingnya dengan Jakarta,” ujarnya.

Baca Juga : Tuntutan Tak Temui Titik Temu, Demo Mahasiswa di DPRD Kalsel Memanas

Baca Juga : Polda Kalsel Proses Hukum 23 Laporan Karhutla, 12 di antaranya Berkaitan dengan Korporasi

Ia menegaskan, masyarakat berhak mendapatkan kehidupan yang sejahtera, adil, dan aman. Menurutnya, hal-hal tersebut merupakan hak dasar yang seharusnya dipenuhi pemerintah.

Athof bahkan mempertanyakan kondisi yang membuat masyarakat harus bertahan begitu lama di tengah berbagai persoalan tersebut.

“Harapan sudah tidak ada, karena kalau misalkan harapan itu ada, maka tidak ada empat bulan penderitaan ini,” tegasnya.

Selain menyuarakan kritik melalui mimbar bebas, BEM UI bersama mahasiswa dan relawan lokal juga menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

Bantuan yang diberikan meliputi air bersih, alat pelindung diri, serta peralatan pemadam kebakaran bagi relawan pemadam kebakaran mandiri atau Barisan Pemadam Kebakaran (BPK).

Mereka juga menyediakan rumah aman asap atau ruang oksigen di Puskesmas Pemurus Dalam dan membagikan masker kepada masyarakat.

Langkah tersebut dilakukan untuk membantu warga menghadapi dampak kabut asap karhutla yang masih menjadi persoalan di Kalimantan Selatan. (rizqan)

Editor: Abadi