BANJARBARU, — Di tengah kepulan asap dan panas yang menyengat di kawasan Pengayuan, Lianggang, Banjarbaru, sosok bocah 13 tahun itu terlihat berbeda, Jumat (12/9/2026) kemarin sore.
Namanya Riski. Ia masih duduk di bangku SMP Negeri 4 Banjarbaru. Namun, di sela aktivitasnya sebagai pelajar, Riski memilih ikut bergabung bersama Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Prabu untuk membantu upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan tersebut.
Usianya masih sangat muda. Tubuhnya pun terlihat kecil dibandingkan orang-orang dewasa yang berada di lokasi. Namun, ketika melihat kobaran api menjalar di lahan, Riski tidak ingin hanya menjadi penonton. Ia datang membawa niat sederhana untuk membantu.
“Ingin menolong orang dan supaya apinya tidak menyebar semakin luas,” demikian alasan Riski ikut menjadi relawan.
Hampir setiap hari ia datang ke lokasi. Sepatu boot yang dikenakannya bahkan tampak kebesaran di kakinya begitu juga helm pelindung yang terpasang di kepalanya.
Di tengah teriknya matahari waktu itu, Riski tetap berada di sekitar lokasi bersama anggota BPK lainnya. Asap yang pekat menyelimuti kawasan membuat pandangan terkadang terbatas.
Panas dari lahan yang terbakar pun terasa menyengat. Namun, bagi Riski, kehadirannya di sana bukan sekadar bermain. Sesekali tingkahnya memang terlihat seperti anak-anak pada umumnya. Ia bercanda dan bermain bersama rekan-rekan relawan lainnya.
Tetapi ketika api kembali muncul, perhatiannya langsung tertuju ke titik tersebut. Dengan perlengkapan seadanya, Riski berusaha membantu memastikan api yang muncul tidak kembali menjalar atau meluas.
Baca Juga : Tinjau Karhutla Kalsel, Wapres Gibran Soroti Kesiapan Layanan Kesehatan Warga Terdampak Kabut Asap
Baca Juga : Cegah Karhutla, Pemprov Kalsel Basahi Lahan Gambut di Kawasan Bandara
Semangatnya menjadi gambaran sederhana tentang kepedulian. Di usianya yang masih 13 tahun, ia sudah memiliki keinginan untuk membantu lingkungan dan orang lain.
“Yang penting apinya cepat padam dan tidak menyebar,” menjadi harapan yang dibawanya setiap kali datang ke lokasi.
Di balik helm yang terkadang tampak kebesaran dan sepatu boot yang belum pas di kakinya itu, tersimpan keberanian seorang anak yang ingin berbuat sesuatu untuk lingkungannya.

Namun, kehadiran Riski juga menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan perkara ringan. Asap, panas dan kondisi lahan yang terbakar memiliki risiko keselamatan, terlebih bagi anak-anak.
Semangat Riski untuk membantu tentu perlu mendapat apresiasi sekaligus perlindungan. Keinginan menolong adalah hal mulia, tetapi keselamatan anak tetap menjadi yang utama.
Di Pengayuan, Riski mungkin hanya satu dari sekian banyak relawan yang berjibaku menghadapi karhutla. Namun, dari langkah kecilnya, ada pesan besar yang terlihat jelas.
Kepedulian tidak selalu menunggu seseorang menjadi dewasa. Kadang, ia hadir dari seorang anak berusia 13 tahun yang hanya ingin melihat api padam dan lahan kembali menghijau tenang. (airlangga)
Editor: Abadi






