BANJARMASIN, klikkalsel.com – Jauh sebelum Gerakan Pramuka resmi diperkenalkan pada 1961, gerakan kepanduan telah berkembang di Kalimantan Selatan.
Selain menjadi sarana pendidikan luar sekolah, kepanduan saat itu turut menjadi wadah untuk membentuk karakter sekaligus menanamkan semangat kebangsaan kepada generasi muda.
Dosen Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Mansyur, menjelaskan, salah satu jejak awal kepanduan di Kalimantan Selatan dapat ditemukan di Marabahan melalui Borneo Padvinder Organisatie (BPO) atau Organisasi Kepanduan Borneo.
“Sejarah kepanduan di Kalimantan Selatan memiliki jejak panjang, bahkan jauh sebelum Pramuka terbentuk tahun 1961,” ujar Dr. Mansyur, Selasa (25/8/2026).
BPO menjadi salah satu organisasi kepanduan tertua di Kalimantan Selatan. Organisasi tersebut diselenggarakan oleh Particuliere Hollands Inlandse School (PHIS) atau HIS Swasta pada 1929 di Marabahan di bawah pengelolaan Sarekat Islam.
Dalam perkembangannya, seiring menguatnya pergerakan menuju kebangsaan, BPO kemudian meluaskan ruang geraknya menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).
Saat Perguruan Taman Siswa berdiri di Marabahan, para siswa yang tergabung di dalamnya tetap menjadi anggota KBI. Salah satu tokoh kepanduan di Marabahan kala itu adalah M. Ruslan, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Ketua PPM dan Sarekat Kalimantan di Marabahan.
Para anggota KBI mulai menggunakan seragam berupa baju cokelat. Pada bagian leher terdapat kain segitiga dan dasi merah putih. Mereka juga mengenakan peci cokelat atau topi rotan.
Menurut Dr. Mansyur, kegiatan KBI memiliki tujuan yang erat dengan pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan.
“Tujuan KBI adalah untuk melatih mental pemuda-pemuda serta untuk menanamkan rasa kebangsaan guna mencapai kemerdekaan,” katanya.
Kegiatan KBI dilakukan melalui berbagai latihan kepanduan. Mereka juga menyebarkan lagu-lagu perjuangan, seperti Indonesia Raya, serta membentuk cabang dan ranting di berbagai daerah.
Pergerakan KBI kemudian berkembang hingga Barabai. KBI Cabang Barabai dipimpin Ali Baderun dan memiliki sejumlah ranting, di antaranya di Desa Birayang, Rangas dan Karatau.
Pada 1932, KBI Cabang Barabai melakukan kunjungan dan latihan kepanduan di Marabahan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mempererat kesatuan dan persatuan antara pengurus serta anggota KBI di kedua daerah.–
Sepulang dari Marabahan, semangat anggota KBI semakin kuat. Mereka berkeliling Kampung Batu Bini di Kandangan sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih.
Aksi tersebut kemudian mendapat perhatian polisi PID. Ketua Regu KBI bernama Alibasah ditangkap dan ditahan selama 14 hari karena dianggap bertanggung jawab atas aktivitas tersebut.
Namun, penangkapan itu tidak menghentikan kegiatan KBI. Pada 1933, KBI Cabang Barabai menggelar rapat umum di Gedung Bioskop Barabai untuk memberikan pemahaman mengenai kesadaran rakyat.

Baca Juga : Pemprov Kalsel Rangsang Pengetahuan Siswa SMP tentang Sejarah dan Budaya Lewat Lomba Cerdas Cermat
Baca Juga : Bank Kalsel Cabang Marabahan Meriahkan Hardiknas di SDN Marabahan 1
Pada tahun yang sama, KBI Cabang Kandangan juga diresmikan. Organisasi tersebut dipimpin Sumartoyo sebagai Hoofdleider atau pemimpin umum, dengan wakilnya Bustami dan Muhammad Ramli.
Melalui KBI, para pemuda di Kandangan mendapatkan pendidikan kebangsaan. Mereka digembleng agar memiliki hasrat sebagai manusia Indonesia yang bercita-cita mencapai Indonesia Mulia, Indonesia Raya dan Indonesia Merdeka.
“Melalui KBI, para propagandis kebangsaan di Kandangan melakukan gemblengan kepada anak-anak muda agar mereka mengetahui dan memiliki hasrat sebagai manusia Indonesia yang bercita-cita mencapai Indonesia Mulia, Indonesia Raya, dan Indonesia Merdeka,” tutur Dr. Mansyur.
Dalam latihan KBI, anggota juga diwajibkan mematuhi sumpah kepanduan, mulai dari sumpah setia, sumpah bakti, setia janji, jujur, tunduk terhadap peraturan dan nasihat orang tua.
Mereka juga ditanamkan kesetiaan kepada tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Selain itu, latihan baris-berbaris, ilmu kepanduan dan sejarah tanah air menjadi bagian dari pendidikan mereka.
Para anggota juga mempelajari riwayat hidup tokoh-tokoh besar tanah air dan bangsa-bangsa di dunia. Kisah perjuangan para pahlawan yang melawan penjajahan Belanda menjadi bagian penting dalam pembelajaran.
Salah satu kegiatan yang memperlihatkan semangat kebangsaan anggota KBI terjadi pada 31 Agustus 1933. Saat pemerintah Hindia Belanda, orang-orang Belanda dan kaum ambtenaar merayakan Hari Kebangkitan Kerajaan Belanda, Sumartoyo memerintahkan seluruh anggota KBI meninggalkan Kota Kandangan.
Mereka kemudian menuju Desa Padang Batung untuk melaksanakan perkemahan KBI. Dalam kegiatan tersebut, para anggota mengumandangkan lagu-lagu perjuangan, di antaranya Indonesia Raya, Mars KBI dan Matahari Mulai Bercahaya.
“Pada saat berkemah mereka mengumandangkan lagu-lagu perjuangan, seperti lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars KBI, Matahari Mulai Bercahaya, dan lain-lain,” jelasnya.
Perjalanan organisasi kepanduan di Kalimantan Selatan kemudian memasuki babak baru pada 1961. Melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tanggal 20 Mei 1961, Gerakan Pramuka ditetapkan sebagai organisasi kepanduan nasional.
Gerakan Pramuka kemudian diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 14 Agustus 1961. Tanggal tersebut selanjutnya diperingati sebagai Hari Pramuka.
Sejak saat itu, berbagai gerakan kepanduan di daerah, termasuk Kalimantan Selatan, menjadi bagian dari Gerakan Pramuka melalui struktur Kwartir Daerah Kalimantan Selatan.
Drs. Abdullah Sihamkari juga menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan Gerakan Pramuka di Kalimantan Selatan, salah satunya sebagai perancang lencana daerah Kalsel.
“Jadi dari Rumah Bulat Marabahan, Borneo Padvinder Organisatie, Hizbul Wathan, hingga Gerakan Pramuka, sejarah kepanduan Kalimantan Selatan adalah sejarah pendidikan, karakter, kebangsaan, dan perjuangan generasi muda,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi






