Religi  

Ustadz H Mohammad Mobarak, Jelaskan Pentingnya Adab Menjaga Lisan

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Menjaga lisan atau perkataan (pembicaraan) ternyata tertuang dalam Al-Qur’an dan hadist.

Adab ini sangat perlu untuk diketahui, sebab lisan diibaratkan pisau apabila salah dalam menggunakannya dapat melukai hati orang banyak.

Terlebih di dalam tahun politik kebebasan berpendapat dan keterbukaan informasi sudah menjadi hal yang wajar.

Akan tetapi, dikuatirkan mengeluarkan ucapan atau perkataan di luar kelaziman dan kepantasan bisa saja akan menimbulkan suasana kegaduhan di masyarakat

Meskipun diketahui, setiap kalimat yang keluar dari mulut akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Untuk itu, sebaik-baiknya manusia adalah orang yang terampil untuk memperhitungkan dan memperhatikan setiap perkataan yang akan diucapkannya.

Hak tersebut diungkapkan Ustadz H Mohammad Mobarak, kepada klikkalsel.com bahwa memasuki musim politik ini penting untuk menjaga adab dalam berkata – kata atau pembicaraan.

“Adab dalam berkata-kata atau pembicaraan ini sangat penting diingatkan kepada masyarakat untuk kondisi saat ini yang memasuki musim politik,” ujarnya, Kamis (7/12/2023).

Baca Juga : Adab Istri Kepada Suami dan Keutamaanya dalam Islam

Baca Juga : UPZ Bank Kalsel Bantu Biaya Operasinya TPQ Angkatan Muda Cahaya Islam

Dijelaskan Ustadz Mobarak sapaan akrabnya, pembicaraan dalam bahasa Al-Quran dinamai kalam. Dari akar kata yang sama terbentuk kata lain dalam bahasa Arab yang berarti luka.

“Ini menjadi peringatan bahwa kalam juga dapat melukai, bahkan luka yang diakibatkan lidah bisa lebih parah dari pada oleh pisau,” ujarnya.

Karena itu, kata Ustadz agar berhati hati dalam berucap, karena di dalam Al-Qur’an dan al hadits, bicara memiliki konsekuensi hukum.

“Pada Surah Qaf ayat 17-18 kita selalu dalam pengawasan Malaikat,” ungkapnya.

“Di dalam hadits Mu’adz bin Jabbal Radhiallahu Anhu tatkala Beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, apakah kami akan disiksa dengan apa yang kami ucapkan? Maka jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Wahai Mu’adz, tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka diatas wajah-wajah (fisik) mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka.” (HR.Tirmidzi, An-Nasaai dan Ibnu Majah),” sambungnya.

Pada saat ini, menurut uatadz, dimana rangkaian tahapan penyelenggaraan pemilu tahun 2024 mendatang sudah berlangsung. Terlihat dari pemberitaan di media elektronik hingga media sosial yang ramai akan pembicaraan politik untuk dibincangkan baik dalam hal mencari dukungan.

“Sudah ramai jadi perbincangan hangat, bahkan pembicaraan politik dan dukungan politik diperbincangkan dari restoran mewah hingga warung kopi, dari perkantoran hingga pasar, pejabat hingga buruh,” imbuhnya.

Beragamnya pandangan, perbedaan pilihan atau berlainan pendapat, kata Ustadz, adalah suatu hal yang biasa, namun janganlah sampai menjadi ladang dosa.

Seperti pembicaraan yang mengandung prasangka buruk, fitnah-memfitnah, caci maki, hina-menghina dan merendahkan orang lain

Sebagaimana Firman Allah SWT pada Q.S. QS. Al Hujurat: 11.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.

Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

“Jadi apapun pilihan masing-masing bahkan visi dan misi nya pun bisa jadi tidak sama, namun Ukhuwah Islamiyah tentunya haruslah tetap terjaga, persatuan haruslah tetap terpelihara, jangan menjadikan bangsa ini terpecah belah. Marilah kita hidup damai dalam keragaman dan perbedaan,” pungkasnya.(airlangga)

Editor : Amran