KOTABARU, klikkalsel – Mayoritas petani padi sawah di Desa Sumber Sari, Kecamatan Pulau Laut Timur, Kotabaru, Kalimantan Selatan, terpaksa harus beralih profesi, dan memilih mengadu nasibnya menjadi nelayan.
Kondisi tersebut terpaksa dilakukan kalangan petani desa eks tranmigrasi puluhan tahun silam tersebut dikarenakan lahan persawahan mereka mengering ketika memasuki musim kemarau, dan hanya mengaharapkan tadah hujan.
Kepala Desa Sumber Sari, Abdul Haris, mengatakan, luas lahan persawahan petani di desanya yang mengalami kekeringan mencapai lebih kurang 400 hektar.
“Memang lahan sawah di desa kami setiap musim kemarau kering tidak bisa digarap. Jadi, terpaksa banyak petani yang mencari ikan ke laut, dan juga hanya bisa bertanam satu kali dalam setahun,” ujar Kades, saat dijumpai awak media ini Sabtu, (15/9/2018) siang.
Menurutnya, kendala para petani akan teratasi ketika kawasan persawahan terbangun irigasi, sebagai langkah mengatasi persoalan pengairan lahan persawahan tersebut.
“Kendalanya hanya satu yakni air. Kalau ada irigasinya maka petani pasti bisa kembali menggarap, dan menanam dua sampai tiga kali dalam setahunnya,” ujar Haris, sembari menunjukkan hamparan lahan persawahan yang tampak semak dan mengering.
Namun demikian, Kades menyebutkan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan bantuan terkait pembuatan irigasi untuk pengairan persawahan ke Pemerintah Daerah, melalui dinas Pertanian setempat namun belum mendapat tanggapan.
“Mengajukan bantuan untuk irigasi sudah kita lakukan tapi, sampai sekarang belum ada realisasinya. Kalau bantuan bibit, dan alat pertanian seperti handtraktor sudah ada. Tapi gimana juga mau menggarap lahan sawahnya kalau kering,” tutur Kades menutup. (duki)
Editor : Elo Syarif





