Video : Noorlatifah Dapat Ilmu Bikin Tanggui Dari Murung Selong

BANJARMASIN, klikkalsel – Tangui, yaitu penutup kepala berbentuk bundar terbuat dari daun nipah yang sudah dikeringkan oleh warga Banjar pada zaman dulu sering digunakan dalam beraktivitas, khususnya para petani.

Namun, topi tradisional khas suku Banjar tersebut kini mulai jarang dijumpai di tengah era modern.

Kali ini, klikkalsel.com mendapat kesempatan melihat langsung proses pembuatan tanggui di Kampung Murung Selong RT 13, Kelurahan Sungai Lulut Banjarmasin Timur, belum lama tadi.

Salah satu pengrajin tanggui, warga di atas bantaran Sungai Martapura ini adalah Wahidah akrab disapa Idah. Ia tampak begitu piawai merajut dan menyusun helaian daun nifah menggunakan jarum serta benang.

Turut hadir anggota DPRD Banjarmasin, Noorlatifah di tengah kunjungan lapangannya di pemukiman pinggiran kota tersebut. Dalam kesempatan itu, Ia ikut ambil bagian membuat tanggui. Sesekali Wahidah mengarahkannya saat menusukan jarum jahit, agar tak salah merapatkan daun nipah.

“Ulun (saya) tadi mencoba, ternyata sangat rumit dan cukup susah. Karna harus orang yang sudah terbiasa dan ahlinya. Saya harus belajar dulu,” ucap Noorlatifah sambil memegang tangui.

Wahidah menerangkan perlu ketelitian dan harus sabar saat membuat tangui. Pasalnya, 1 buah topi tangui ini menghabiskan waktu satu dalam proses pembuatan.

“Daun nipah dipotong dulu, terus dijemur. kemudian daun yang sudah kering disemat pakai lidi, lalu dirangkai menjadi bundar menggunakan bambu,” jelas Wahidah.

Ia mengatakan, untuk satu tanggui dijual seharga Rp 7,500 per tangui kepada pembeli, yang kebanyakan adalah petani dan pedagang pasar terapung.

Noorlatifah mengaku sangat mengapresiasi atas usaha Wahidah yang mempertahankan kearifan lokal Banjar, meksi tak sebanding dengan upah yang terima.

“Tidak mengira di sini ada pengrajin topi tanggui, saya salut dengan ibu Wahidah, usahanya perlu dikembangkan guna melestarikan tradisional Banjar,” pungkasnya.(rizqon)

Editor : Elo Syarif