Kerusuhan 23 Mei 1997 Sejarah Kelam Banjarmasin, Nurjanah : Suara Adzan Dimana-mana

Proses pemakaman masal korban kerusuhan 23 Mei di Pemakaman A Yani Kilometer 22 (sumber foto, Mansyur)

Kejadian ini semakin melemahkan posisi pemerintahan Orde Baru, karena di beberapa daerah yang selama ini dinilai aman ternyata mengalami kejadian yang luar biasa.

Musuh-musuh Orde Baru menjadikan peristiwa semacam kerusuhan 23 Mei ini sebagai reaksi ketidakadilan yang dirasakan masyarakat selama ini.

Kasus ini sampai sekarang tidak terungkap dengan jelas siapa pelaku yang bertanggung jawab. Gejolak-gejolak yang terjadi di Ibu kota Jakarta menjelang kejatuhan pemerintahan Orde Baru diikuti dengan seksama oleh daerah-daerah termasuk Kalimantan Selatan.

Spanduk-spanduk yang terbentang di jalanan dan depan Kampus Unlam mendukung gerakan yang dilancarkan komponen mahasiswa Jakarta agar Presiden RI Jenderal Soeharto mengundurkan diri, karena dinilai sudah tidak layak lagi memimpin bangsa Indonesia yang sedang dilanda berbagai krisis.

“Besarnya tekanan para demonstran, merebaknya kerusuhan, dan terbentuknya opini yang diciptakan pers yang sangat menyudutkan pemerintah Orde Baru, mengakibatkan Presiden Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden pada tanggal 21 Mei 1998, dan sejak itu tumbanglah Pemerintahan Orde Baru,” tutupnya.

Disamping itu, salah satu warga yang juga melihat peristiwa tersebut bernama Nurjanah (59), seorang pensiunan pegawai asuransi swasta di kawasan Jalan Pangeran Antasari yang tidak jauh dari lokasi kerusuhan menceritakan saat peristiwa itu terjadi dirinya masih berusia 34 tahun.

“Seketika setelah shalat jumat tiba tiba diluar kantor orang pada ribut dan banyak orang berkumpul,” ujarnya.

Setelah mengecek keluar kantor, dia baru menyadari bahwa terjadi kerusuhan di Banjarmasin.

Baca Juga : Sejarah Kelam 23 Mei 1997, Terpampang di Stand Refleksi Kalsel Dalam Karya Jurnalistik

Baca Juga : Sejarah Pulau Kembang, Dikisahkan dari Tenggelamnya Kapal Inggris dan Munculnya si Anggur Raja Kera?

Saat itu, kata dia suasana sangat mencekam, ditambah banyak orang yang berkumpul terlihat beringas dengan membawa sejumlah sajam di tangannya.

“Saya saja bersembunyi di kantor karena mereka sangat beringas dan terdengar suara adzan dimana mana. Padahal bukan waktunya shalat, dan sari siang bakar bakar dari orang sudah mulai terjadi,” ceritanya.

“Saya yang saat itu kebetulan mengenakan pakaian warna kuning merasa sangat takut dan bersembunyi hingga ada yang menolong saya memberi baju ganti,” sambungnya.

Setelah bersembunyi hingga sore hari, Nurjanah memberanikan diri untuk pulang ke rumahnya yang berada di kawasan Teluk Dalam, Kecamatan Banjarmasin Barat.

“Waktu pulang saya muter jalan melalui Pal 1 (A Yani Kilometer 1) ke Jembatan Dewi, masuk ke pasar Ujung Murung karena tidak berani lewat depan Mitra saat itu,” jelasnya.

Dalam perjalan pulang, banyak orang yang juga saling menyelamatkan diri dan berbagi kain berwarna yang diduga sebagai tanda kelompok.

“Saya dikasih orang kain warna hijau saya pakai dan Alhamdulilah saat itu saya dapat pulang kerumah dengan selamat meskipun dihantui rasa takut,” pungkasnya. (airlangga)