Gara-gara Ini, Kebakaran di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

Helikopter water bombing memadamkan api di daerah Landasan Ulin Banjarbaru.(foto : nuha/klikkalsel)

BANJARMASIN, klikkalsel – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) belum juga padam. Pasalnya lahan yang sering terbakar adalah wilayah yang daerahnya berlahan gambut, sehingga kebakaran di lahan gambut menjadi kendala besar BNPB dalam upaya pemadaman.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo, lahan gambut merupakan fosil batu bara muda dan habitatnya harus berair. Jadi, sejumlah pakar mengatakan tidak lengkap menyebut lahan gambut, tetapi rawa gambut.

“Mari kita mengembalikan kodratnya gambut ini sebagai rawa gambut yang harus basah, kalau itu merupakan fosil batu bara muda artinya sebagai bahan bakar. Jika dibakar sulit untuk memadamkanya,” ujar Doni Monardo.

Ia mengatakan BNPB melakukan berbagai evaluasi bahwa semua yang memadamkan api di lahan rawa gambut tidak bisa padam sampai berminggu-minggu dan satu bulan, bahkan lahan sudah menjadi bubur baru berhenti berasap.

Inilah, kata dia, yang harus dipahami bahwa lahan gambut merupakan fosil batu bara muda yang kodratnya harus ada air tidak boleh dikeringkan. Sehingga pada musim kemarau panjang tetap terjaga dan ketika terbakar hanya lapisan atas yang didalamnya tetap terdapat air.

“Saat ini kering, ada gambut yang kedalaman mencapai 36 meter, terbakar sampai 7 meter,” kata Doni Monardo.

Dari hasil briefing Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel bersama tim Karhutla terdapat lima kabupaten berpotensi kekeringan ekstrim yaitu Kotabaru, Banjar, Batola, Tanah Laut dan Tanah Bumbu.(nuha)

Editor : Farid