Bus Air, Tak Lagi Jadi Raja Transportasi Sungai

Bus air yang hanya tertinggal yakni KM Pancar Mas II saat sandar di pelabuhan Banjar Raya (foto : azka/klikkalsel)

BANJARMASIN, klikkalsel- Tahun 1980-1995, merupakan catatan sejarah kejayaan pusat perdagangan dan penumpang melalui transportasi sungai tujuan Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah (Kalsel-Teng).

Dermaga Banja Raya yang terletak di Kota Banjarmasin, Kecamatan Banjarmasin Barat masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu hilir mudik para penumpang dikala itu.

Transportasi sungai menggunakan bus air (kapal kayu bertingkat) sekitar 30 tahun silam ada sekitar 30 buah yang mengangkut barang dan penumpang. Bus air beroperasi antar provinsi ini melalui perairan Hulu Sungai Barito.

Kini, seiring dengan pesatnya pembangunan melalui jalur darat bahkan jalur udara menjadikan transportasi air yang dulu menjadi primadona tak lagi diminati.

Dizamannya, bisa dibilang bus air mengusai perairan Barito, tak ada tempat dan desa yang terletak di pedalaman Kalimantan Tengah yang tak disinggahinnya, seperti Kapuas, Muara Teweh, Puruk Cahu yang selalu menurunkan penumpang dan barang dagangan seperti kain milik para saudagar.

Makin pesatnya pembangunan dan kemajuan zaman, bus air kini pensiun. Meski dermaga Banja Raya sekarang sangat berbeda, terbuat dari beton dan sangat kokoh berbeda pada zaman dulu yang hanya terbuat dari kayu ulin.

Pada masanya di pelabuhan Banjar Raya tersebut setiap harinnya ada 3 hingga 5 buah kapal sehari yang berangkat dan selalu dipenuhi penumpang. Berbeda dengan sekarang pula, tak ada terminalnnya, tak ada loket tiket, bahkan dihari-hari biasa bus air tersebut jarang terlihat.

Satu-satunya bus air yang kini tersisa hanya KM Pancar Mas II yang pernah dinahkodai Amat Yusnan nan lanjut usia. Ia menjadi juragan bus air selama 20 tahun.

“Baru tiga tahun terakhir tepatnnya di tahun 2016 silam saya berhenti jadi nahkoda kapal tersebut, karena saya sudah tua dan kondisi badan tak memungkinkan lagi,” katannya Jumat (12/7/2019).

Amat Yusnan 75 tahun Nahkoda Kapal. (foto : azka/klikkalsel)

Sembari bercerita kepada klikkalsel.com dan menikmati segelas kopi disebuah warung di sekitar pelabuhan Banjar Raya Yusnan pun bercerita. 30 tahun silam yang namannya penumpang, setiap hari selalu penuh bahkan berdesakan untuk naik bus air tersebut.

Kini, tak ada lagi bus air yang berangkat setiap harinnya. Dan hanya KM Pancar Mas II yang bertahan itupun lima hari sekali sandar di pelabuhan Banjar raya.

“Sekarang, banyak orang yang memilih jalur darat. Jauh lebih cepat sampai ke tujuan, dibanding naik bus air. Hanya tinggal satu bus air yang ada yakni KM Pancar Mas II, dan kamu beruntung hari ini kapal tersebut datang,” ucapnnya kepada klikkalsel.

Dulu, kenang dia, bus-bus air rata-rata tujuan Kapuas, Palangka Raya, Buntok, dan Puruk Cahu. Kini, bus air itu telah pensiun dan tak melaju lagi di atas Sungai Barito dan Kahayan.

Menurutnya, perkembangan zaman telah meribah semuannya. Sebagai pekerja jasa ia hanya bisa pasrah, sepinya bus air sangat berdampak pada penghasilan.

“Sudah jalannya zaman akan berubah, masyarakat sekarang memilih yang lebih praktis dan cepat,” ucap Yusnan.

Di tengah kenangan Yusnan menceritakan kejayaan bus air, sebuah kapal kayu bertingkat pun terlihat diperairan Barito Hulu, pelan namun pasti, sebuah tali kapal dilempar dari atas kapal dan siap diikat pada sisi pelabuhan dan siap merapat ke pelabuhan Banjar Raya.

Satu persatu penumpang mulai ke luar dari bus air, penarik becak, tukang ojek mulai mendekat dan menawarkan jasannya untuk memuat barang dan penumpang.

Bus air yang bernama KM Pancar Mas II panjang 29 meter, lebar 7,5 meter, dan tinggi 7 meter, dengan dua dek dilengkapi 28 tempat tidur.

Salah satu penumpang yang berhasil diwawancarai klikkalsel.com merupakan mahasiswi ULM bernama Magda asal Puruk Cahu mengatakan, ada kenikmatan tersendiri ketika menaiki bus air.

“Bagi saya menaiki bus air merupakan keasyikan tersendiri menuju kota Banjarmasin, sangat indah pemandangannya terutama Sungai Barito,” ucapnnya dengan senyuman.

Rute pulang pergi Banjarmasin-Muara Teweh butuh sedikitnya 7 drum solar. Tarif satu penumpang dikenakan Rp110 ribu, dengan jadwal pemberangkatan tiap Senin untuk Banjarmasin-Muara Teweh, dan sebaliknya pada Rabu arah Muara Teweh-Banjarmasin dengan jarak tempuh 45 jam. Namun jika perairan surut akan tertunda.

Banyak diantara warga sekitar yang menyayangkan dengan kondisi tersebut, karena bus air yang sempat merajai perairan Barito tersebut dikhawatirkan hilang tergeser zaman.

Sani (40th) warga sekitar mengatakan, sayang jika bus air tersebut akan punah, bagaimana dulu berjayanya transportasi air kita, menjelajah dari desa, kecamatan hingga kota-kota yang ada di Kalimantan. Mudahan saja pemerintah juga ikut membantu keberadaannya.

“Tahun-tahun berikutnya tidak menutup kemungkinan hanya tinggal sebuah nama, untuk bus air, dan hanya ada dalam sebuah foto sebagai cerita untuk generasi,” ucapnnya.(azka)

Editor : Amran