BANJARMASIN, klikkalsel.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalsel tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman. Hal tersebut turut menjadi perhatian Pemerintah Belanda dan menawarkan kerja sama untuk memperkuat sistem pencegahan, terutama melalui tata kelola lahan dan pengelolaan air.
Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, menyampaikan tawaran tersebut usai bertemu Gubernur Kalsel Muhidin di Rumah Dinas Gubernur, Banjarmasin, Senin (5/10/2026).
Menurut Adriaan, perhatian Belanda terhadap karhutla tidak hanya tertuju pada penanganan saat kebakaran terjadi. Pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang menjadi bagian penting dari kerja sama yang ingin dibangun.
“Terkait kebakaran hutan, ini bukan hanya tentang kebakaran, tetapi juga mencegahnya terjadi kembali di masa depan,” ucapnya.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Kedutaan Besar Belanda juga menanyakan kebutuhan Kalsel dan peluang yang dapat mereka dukung dalam penanganan karhutla.
Gubernur Muhidin mengatakan, Kalsel saat ini telah menggunakan armada water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran. Namun, persoalan karhutla tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah kemampuan pemadaman.
Menurutnya, tantangan yang lebih besar berada pada tata kelola lahan, terutama kawasan gambut dan lahan yang dikelola masyarakat.
“Fokus utama kita saat ini adalah bagaimana mendesain tata kelola lahan gambut agar kebakaran tidak meluas,” ujar Muhidin.
Baca Juga : 300 Perusahaan Dikonsolidasikan Tangani Karhutla Kalsel, Gubernur Muhidin Minta Gerakan Serentak
Ia menjelaskan, upaya menata kawasan untuk mencegah karhutla bukan perkara mudah. Sebagian kawasan persawahan maupun lahan kosong merupakan milik dan dikelola langsung oleh masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan Pemprov Kalsel dalam menyusun desain pencegahan karhutla secara menyeluruh, termasuk di kawasan persawahan dan lahan gambut.
Karena itu, Pemprov Kalsel melihat peluang kerja sama dengan Belanda tidak hanya pada aspek pemadaman, tetapi juga pada desain tata kelola lahan dan sistem pencegahan kebakaran.
Merespon hal itu, Adriaan mengatakan, salah satu bidang yang berpotensi dikembangkan adalah pengelolaan air. Menurutnya, pengalaman Belanda dalam mengelola air dan pertanian dapat menjadi bagian dari kerja sama dengan Kalsel.
“Indonesia memiliki ambisi besar dalam bidang pertanian dan pengelolaan air. Itu adalah dua bidang di mana kami, sebagai Belanda, memiliki keahlian khusus,” ujarnya.
Kunjungan Kedutaan Besar Belanda ke Kalsel kali ini merupakan yang pertama dalam empat tahun terakhir. Selain membahas penanganan karhutla, delegasi Belanda juga menjajaki peluang kerja sama di bidang kebudayaan, ekonomi, pertanian, pengelolaan air, dan pendidikan.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada penanganan ketika bencana terjadi, tetapi dapat diarahkan pada pembangunan sistem yang mampu mengurangi risiko karhutla dalam jangka panjang. (rizqan)
Editor: Abadi







