BANJARMASIN, klikkalsel.com — Tahukah kalian ada seorang tokoh asal Bakumpai yang berjasa dalam perlawanan terhadap Belanda.
Ia adalah Panglima Wangkang, sebelum dikenal sebagai salah satu tokoh perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di wilayah Bakumpai, Panglima Wangkang ternyata tumbuh dari keluarga pejuang.
Ia merupakan putra Pambakal Kendet, seorang panglima perang Kerajaan Banjar yang tercatat pernah memimpin perlawanan terhadap Belanda di wilayah Bakumpai.
Sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur menjelaskan, Panglima Wangkang diperkirakan lahir pada 1812 di Kampung Bentok atau Kampung Tengah, Distrik Bakumpai, Afdeeling Borneo. Ia merupakan anak dari Pambakal Kendet dan Ulan Sari, perempuan asal Amuntai, Hulu Sungai Utara.
“Wangkang dilahirkan sekitar tahun 1812. Tidak disebutkan secara pasti hari, tanggal dan bulannya. Ayahnya Pambakal Kendet, sedangkan ibunya bernama Ulan Sari dari Amuntai,” ujar Mansyur, Sabtu (12/9/2026).
Nama Wangkang sendiri memiliki sejumlah kemungkinan makna. Salah satunya dikaitkan dengan istilah perahu Tionghoa yang memiliki bentuk haluan dan buritan tinggi. Namun, makna sebenarnya dari pemberian nama tersebut belum dapat dipastikan dan kemungkinan hanya diketahui oleh keluarga Pambakal Kendet.
Sejak kecil, kehidupan Wangkang berlangsung dalam situasi yang jauh berbeda dengan kondisi masyarakat sekarang. Ia tumbuh ketika Kesultanan Banjar berada dalam tekanan pemerintahan kolonial Belanda.
Baca Juga : Mengungkap Sejarah Perubahan Nama Jalan Kayutangi dan Hasan Basry
Baca Juga : Tinjau Karhutla Kalsel, Wapres Gibran Soroti Kesiapan Layanan Kesehatan Warga Terdampak Kabut Asap
Mansyur menerangkan, Pambakal Kendet bukan orang biasa. Ia merupakan salah satu panglima perang Kerajaan Banjar. Setelah kekalahan Kerajaan Banjar pada 1817, sejumlah panglima memilih meninggalkan wilayah kekuasaan kerajaan dan kembali ke daerah asalnya.
Pambakal Kendet kemudian kembali ke Bakumpai dan menjadi salah satu tokoh yang membuka perlawanan terhadap Belanda di wilayah tersebut.
Hubungan Kendet dengan pemerintahan Kesultanan Banjar juga disebut mulai memburuk sejak sekitar 1816. Kondisi tersebut kemudian berujung pada perlawanan bersenjata terhadap Belanda sekitar 1824 hingga 1825.
“Kendet bersama pengikutnya mendirikan basis pertahanan di Benteng Palokan, yang berada di kawasan Sungai Palokan dan bermuara ke Sungai Nagara atau Sungai Bahan, di seberang Marabahan,” tuturnya.
Pada 23 Desember 1824, Kendet secara terbuka menolak perintah pejabat Belanda H.M. Halewijn. Sejumlah upaya Belanda untuk mematahkan perlawanan tersebut sebelumnya juga mengalami kegagalan.
Hingga akhirnya, pada 1825 Belanda mengerahkan pasukan dengan dukungan sejumlah pembelot dari kalangan keluarga Kendet. Belanda juga membawa meriam yang sebelumnya merupakan milik Kerajaan Banjar. Suara meriam tersebut memiliki dampak psikologis bagi Kendet dan pasukannya.
“Ketika mendengar suara meriam kerajaan yang sudah dikenal, muncul anggapan bahwa mereka bukan lagi berhadapan dengan Belanda, tetapi dengan Sultan. Dari situ semangat perlawanan mulai melemah,” jelas Mansyur.
Sekitar Maret 1825, Pambakal Kendet bersama sejumlah pengikut dan keluarganya ditangkap. Pada 7 Maret 1825, Kendet dihukum mati di Benteng Tatas dengan cara digantung.
“Dalam cerita yang berkembang, kepala Kendet kemudian dibawa ke Batavia, sementara jasadnya disebut dimakamkan di sekitar Sungai Mesa, Banjarmasin,” imbuhnya.
Di tengah penangkapan keluarga Pambakal Kendet, Wangkang yang saat itu masih berusia sekitar 12 tahun tidak ikut ditangkap.
Ia kemudian tetap tinggal bersama ibunya, Ulan Sari.
Pambakal Kendet diketahui memiliki dua istri dan empat anak. Dari istri asal Marabahan, lahir Bentaur, Ince Punduh dan Tihang. Sementara dari Ulan Sari, perempuan asal Kampung Basar, Amuntai, lahirlah Wangkang.
“Sementara tiga saudaranya, Bentaur, Ince Punduh dan Tihang, ditangkap dan dibuang ke Batavia,” sebutnya.
Dalam masa penahanan, mereka disebut mendapat tawaran dari Belanda untuk memperoleh kebebasan dengan syarat tidak lagi melakukan pemberontakan.
Salah satu bentuk perjanjian itu adalah menghadapi seekor macan dalam kurungan.
Bentaur kemudian maju menghadapi macan tersebut. Dalam pertarungan itu, Bentaur berhasil mengalahkan dan membunuh macan tersebut.
“Sesuai perjanjian, mereka akhirnya mendapat pengampunan dan diizinkan kembali ke kampung halaman pada 1854,” kata Mansyur.
Bentaur kemudian kembali ke Kalimantan dan menetap di Puruk Cahu. Sementara Ince Punduh sempat menetap di Jawa dan menikah dengan perempuan keturunan Tionghoa sebelum akhirnya kembali ke Bakumpai.
“Adapun keberadaan Tihang tidak banyak diceritakan dalam sumber yang ada,” tegasnya.
Saat Punduh kembali ke Bakumpai, Wangkang telah tumbuh dewasa. Pertemuan tersebut kemudian mempertemukan kembali dua saudara yang terpisah akibat penangkapan keluarga mereka.
Masa kecil Wangkang sendiri disebut tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain pada zamannya. Ia diasuh oleh ibunya setelah ayahnya ditangkap dan dihukum mati.
Pendidikan yang diperolehnya bukan melalui sekolah formal, karena pada masa itu pendidikan formal belum berkembang seperti sekarang.
“Pendidikan Wangkang lebih banyak diperoleh dari keluarga dan lingkungan masyarakat. Terutama pendidikan agama, kehidupan bermasyarakat, serta pengalaman sehari-hari,” kata Mansyur.
Keluarga Pambakal Kendet diketahui memeluk Islam secara turun-temurun sejak Islam berkembang di wilayah Bakumpai. Karena itu, nilai-nilai keagamaan menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga tersebut.
Wangkang juga belajar mengenai kehidupan melalui aktivitas masyarakat di sekitarnya. Pengetahuan mengenai pertanian, perdagangan hingga kehidupan di lingkungan sungai diperoleh secara alamiah dari keluarga dan masyarakat. Seperti anak-anak lainnya, Wangkang juga bermain bersama teman-teman sebaya.
“Namun, kehidupan masa itu tentu jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak sekarang,” ucapnya.
Ia tumbuh dalam suasana masyarakat yang masih sederhana, sekaligus berada di tengah tekanan kolonial Belanda. Selain belajar dan bermain, Wangkang diperkirakan turut membantu ibunya maupun masyarakat sekitar dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Aktivitas masyarakat ketika itu antara lain bertani, berdagang dan mencari ikan. Dari lingkungan keluarga, agama, masyarakat dan pengalaman hidup itulah karakter Wangkang mulai terbentuk.
“Saat Pambakal Kendet ditangkap pada 1825, Wangkang masih berusia sekitar 12 tahun. Ia kemudian menjalani masa remaja hingga dewasa bersama ibunya,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi






