Melonjak Pesat, ISPA di Kalsel Tembus 27.738 Kasus

Pengendara sepeda motor dan mobil menerjang kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membatasi jarak pandang.

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus meningkat di tengah parahnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel mencatat sebanyak 27.738 kasus ISPA terjadi dalam empat pekan terakhir, mulai Minggu ke-28 (M-28) hingga Minggu ke-31 (M-31) tahun 2026.

Kenaikan kasus terlihat setiap pekan. Pada M-28 tercatat 5.319 kasus, kemudian meningkat menjadi 6.460 kasus pada M-29. Angka itu kembali naik menjadi 7.617 kasus pada M-30 dan mencapai 8.342 kasus pada M-31.

Jika dibandingkan M-28, jumlah kasus pada M-31 melonjak sekitar 56,8 persen atau bertambah 3.023 kasus.

Kepala Dinkes Kalsel, Diauddin, mengatakan peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian serius, terlebih kondisi saat ini bertepatan dengan meningkatnya karhutla dan paparan asap di sejumlah daerah.

“Kita melihat ada peningkatan kasus ISPA dalam beberapa minggu terakhir. Karena itu, masyarakat harus lebih waspada, terutama ketika kualitas udara menurun akibat asap karhutl,” ucapnya, Jumat (21/8/2026).

Diauddin mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Menurutnya, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit paru dan jantung perlu mendapat perhatian lebih.

“Kalau kondisi udara sedang tidak sehat, aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi. Gunakan masker yang sesuai, terutama kalau memang harus keluar rumah, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan apabila muncul keluhan pernapasan,” imbuhnya.

Pada M-31, Banjarmasin menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Kalsel dengan 1.722 kasus. Disusul Banjarbaru sebanyak 1.181 kasus, Kabupaten Banjar 1.099 kasus, Tanah Laut 747 kasus dan Kotabaru 571 kasus.

Jika digabung, kasus di Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar mencapai 4.002 kasus atau sekitar 48 persen dari total kasus ISPA pada M-31.

Sementara itu, kenaikan kasus terbesar dari M-30 ke M-31 terjadi di Banjarbaru dengan tambahan 207 kasus. Kabupaten Banjar bertambah 198 kasus, Banjarmasin 163 kasus, Hulu Sungai Selatan (HSS) 131 kasus dan Hulu Sungai Tengah (HST) 82 kasus.

Dinkes Kalsel mewaspadai paparan asap sebagai salah satu faktor yang dapat memperburuk gangguan pernapasan. Namun, hubungan langsung antara peningkatan kasus ISPA dan karhutla tetap membutuhkan analisis epidemiologi lebih lanjut karena terdapat faktor lain yang juga dapat memengaruhi kasus ISPA.

Baca Juga : Mahasiswa Geruduk DPRD Kalsel, Soroti Karhutla, Listrik Padam hingga Antrean BBM

Baca Juga : Rakor Karhutla dan Kekeringan, Bupati Tabalong Dorong Kesiapsiagaan dari Desa

Diauddin menegaskan, pihaknya tidak hanya mengandalkan data jumlah kasus, tetapi juga memantau kondisi lingkungan untuk menentukan langkah penanganan.

“Data kasus kita pantau terus dan akan kita lihat bersama dengan kondisi kualitas udara serta perkembangan karhutla. Jadi penanganannya tidak berdiri sendiri, tetapi harus melihat kondisi di lapangan secara keseluruhan,” sebutnya.

Dinkes Kalsel kini memperkuat surveilans dan validasi data ISPA, terutama di wilayah yang mengalami peningkatan kasus maupun aktivitas karhutla.

Data kasus juga akan dipadukan dengan informasi kualitas udara, termasuk PM2.5 dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sebaran hotspot, arah angin serta kondisi cuaca.

Selain itu, kesiapan puskesmas dan rumah sakit turut diperkuat, mulai dari ketersediaan tenaga kesehatan, obat-obatan, oksigen hingga jalur rujukan apabila terjadi kondisi darurat.

Layanan kesehatan bergerak dan distribusi masker juga disiapkan sesuai kebutuhan di wilayah terdampak.

Untuk masyarakat, Dinkes Kalsel mengimbau agar rutin memantau perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara mulai tidak sehat.

Saat terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang terpasang rapat, seperti N95 atau KN95. Ketika asap pekat, pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya polutan.

Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, nyeri dada, napas berbunyi atau kondisi tubuh semakin memburuk.

“Jangan menunggu sampai keluhan menjadi berat. Kalau sudah ada sesak, nyeri dada atau gangguan pernapasan yang semakin parah, segera ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan,” tandasnya. (rizqan)

Editor: Abadi