BANJARMASIN, klikkalsel.com – Perjalanan rumah sakit di Kota Banjarmasin telah melewati lintasan sejarah panjang, mulai dari era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa setelah kemerdekaan Indonesia.
Sejarawan Mansyur mengungkapkan, perkembangan layanan kesehatan di kota ini tidak hanya mencerminkan kemajuan dunia medis, tetapi juga perubahan sistem sosial dan politik yang terjadi selama lebih dari satu abad.
Menurut Mansyur, keberadaan rumah sakit di Banjarmasin mengalami transformasi dari sistem kesehatan kolonial yang awalnya hanya melayani kalangan tertentu menjadi layanan kesehatan yang semakin terbuka bagi seluruh masyarakat.
“Rumah sakit di Banjarmasin tidak hanya menjadi saksi perjalanan sejarah, tetapi juga simbol perubahan pelayanan kesehatan dari sistem kolonial menuju pelayanan yang lebih inklusif setelah Indonesia merdeka,” ujar Mansyur, Sabtu (11/7/2026).
Ia menjelaskan, rumah sakit modern pertama di Banjarmasin adalah Bandjermasin Ziekenhuis yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebelum tahun 1943.
Rumah sakit tersebut berada di kawasan Fort Tatas atau Benteng Tatas, yang kini menjadi lokasi Masjid Sabilal Muhtadin.
Mengacu pada catatan sejarawan Idwar Saleh, Fort Tatas saat itu merupakan pusat pertahanan militer Belanda yang dilengkapi asrama, kantor pemerintahan, gudang logistik hingga rumah sakit.
Namun, data mengenai kapan tepatnya Bandjermasin Ziekenhuis berdiri maupun aktivitas pelayanannya masih sangat terbatas.
Sebelum keberadaan rumah sakit tersebut, layanan kesehatan di Banjarmasin lebih banyak dilakukan melalui poliklinik. Salah satunya adalah poliklinik yang didirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) Muhammadiyah pada tahun 1933 di Jalan Emma Straat.
Baca Juga : Sejarah Rumah Banjar Museum Wasaka, Monumen Cinta Juragan Intan Untuk Sang Anak
Poliklinik itu dipelopori Saleh Bal’ala, Ali Jagau, dan Bakri dengan dokter Sosodoro Jatikusomo sebagai tenaga medis.
Kehadirannya menjadi bentuk kepedulian Muhammadiyah terhadap pelayanan kesehatan masyarakat sekaligus menyeimbangi berkembangnya layanan kesehatan yang dikelola misi dan zending Kristen di Kalimantan.
Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, kondisi pelayanan kesehatan di Banjarmasin mengalami kemunduran.
Mansyur menyebutkan, banyak fasilitas kesehatan dialihkan untuk kepentingan perang sehingga masyarakat mengalami kesulitan memperoleh obat-obatan maupun pelayanan medis.
Seluruh fasilitas kesehatan saat itu berada di bawah kendali Eiseikyu atau Dinas Kesehatan Jepang. Selain dokter Jepang, sejumlah dokter Indonesia juga dilibatkan dalam operasional layanan kesehatan, sementara dokter Belanda ditahan atau dipulangkan.
“Rusaknya sarana kesehatan akibat perang, beralihnya fungsi rumah sakit, hingga kekurangan pangan menyebabkan kualitas kesehatan masyarakat menurun drastis pada masa pendudukan Jepang,” jelas Mansyur.
Dalam catatan sejarah tersebut juga disebutkan, pada September 1944 berdiri Minseibu Banjarmasin Byoin, rumah sakit yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Ulin Banjarmasin.
Pada masa itu, Jepang juga mendatangkan sejumlah perempuan muda dari Pulau Jawa untuk bekerja di rumah sakit. Mereka dikenal dengan sebutan mina-san dan turut membantu pelayanan kesehatan di tengah keterbatasan akibat perang.
Mansyur menilai perjalanan sejarah rumah sakit di Banjarmasin menunjukkan bagaimana fasilitas kesehatan mampu bertahan melewati berbagai fase penting sejarah bangsa, mulai dari kolonialisme, perang, hingga masa kemerdekaan.
“Rumah sakit di Banjarmasin telah melalui berbagai tantangan sejarah. Kini keberadaannya menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat dan simbol pengabdian kepada publik,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi





