BANJARMASIN, klikkalsel.com – Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, hadir di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin untuk membuka rangkaian kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pengelolaan sampah sekaligus mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam menangani persoalan lingkungan secara bersama-sama.
Dalam kesempatan itu, Hanif Faisol memberikan paparan terkait pentingnya penanganan sampah yang tidak hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan, tetapi dimulai dari sumber atau hulu.
Usai kegiatan, Hanif bersama Rektor ULM dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarmasin turut menimbang sampah yang telah dipilah untuk selanjutnya diproses dan didaur ulang.
Rombongan kemudian menaburkan Eco Enzyme pada saluran kanal yang berada di lingkungan Kampus ULM Banjarmasin sebagai bagian dari rangkaian kegiatan peduli lingkungan.
Hanif Faisol mengatakan, persoalan sampah tidak dapat ditangani secara maksimal apabila hanya mengandalkan satu pihak. Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor atau pendekatan pentahelix, termasuk keterlibatan media.
“Kita tau persis penangan sampah yang kita lakukan tidak mungkin bisa maksimal dan optimal apabila tidak secara atau bersama-sama pentahelix, salah satunya media. Hari ini kita melaunching dan memulai kegiatan World Cleanup Day,” ucapnya.
Ia menjelaskan, WCD merupakan gerakan yang telah ditetapkan secara resmi oleh United Nations General Assembly (UNGA) atau Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Juga : Warga Keluhkan Sampah Tak Terangkut 3 Hari
Baca Juga : Kenaikan Retribusi Sampah dan Tarif PALD Perlu Dikaji Ulang
“Kalau bahasa kitanya itu bersih-bersih tapi kata pak presiden ini Kurvey. Jadi kegiatan ini selalu dilakukan setiap tahun, dan Indonesia selalu mencatatkan jumlah partisipan terbesar, diantara 132 negara yang mengikuti,” terangnya.
Menurut Hanif, rangkaian WCD 2026 akan dilaksanakan secara menyeluruh di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 20 Oktober 2026 dan ditutup di Universitas Atma Jaya Jakarta.
“Kita memulai di ULM Banjarmasin, dan akan terus di glorifikasikan. Kegiatan ini penting untuk menumbuh kembangkan diksi, narasi terkait dengan pentingnya kelola sampah di hulu,” bebernya.
Hanif menegaskan, gerakan tersebut diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah yang muncul di permukaan, tetapi menyentuh akar persoalan melalui perubahan perilaku dan budaya masyarakat dalam mengelola sampah.
Ia menilai edukasi dan komunikasi menjadi bagian penting untuk membangun kesadaran tersebut secara berkelanjutan.
“Minggu depan kita akan lakukan rakor terkait dengan penanganan dukungan kita terhadap WCD ini. Bukan karena ini agenda internasional yang diadakan PBB, tetapi agenda yang diperlukan untuk penanganan sampah nasional kita,” jelasnya.
Menurutnya, Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar dalam pengelolaan sampah, salah satunya berkaitan dengan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat.
“Masalah Nasional Kita masih terlilit tiga masalah substansional utama, yakni masalah tata kelola Komunikasi, Informasi, dan Edukasi atau KIE nya. Tiga hal ini yang tidah boleh terputus,” pungkasnya.(fachrul)
Editor: Amran






