Sejarah Pulau Kembang, Dikisahkan dari Tenggelamnya Kapal Inggris dan Munculnya si Anggur Raja Kera?

Menurut laporan Hamilton tahun 1757 pada waktu malam hari, telah turun ke muara Cerucuk orang Biaju sekitar 3.000 orang. Mereka menyerang Loji dan Benteng Inggris yang ada di pesisir Sungai Barito tersebut yang kemudian mereka membakar kapal Inggris

“Menurut cerita turun temurun yang dikumpulkan Idwar Saleh, bangkai kapal Inggris di Sungai Barito tersebut akhirnya menjadi sedimentasi di Sungai Barito. Bangkai kapal-kapal Inggris tersebut lambat laun ditumpuki lumpur dari sungai Barito sehingga menjadi delta di bagian tengah Sungai Barito. Kemudian delta inilah yang menjadi Pulau Kembang,” jelasnya.

Dari situlah, kata Mansyur muncul tafsiran atau pendapat. Versi pertama mengatakan bahwa tanah yang baru muncul di permukaan air tersebut mengambang (meluap/meluap) sehingga Pulau Kembang juga dinamakan Pulau Maluap.

Kemudian versi kedua, setelah pulau ini muncul di permukaan air seiring waktu ditumbuhi hutan, pulau ini menjadi kediaman atau habitat kera.

“Orang desa di sekitarnya menganggap bahwa kera-kera tersebut merupakan jelmaan dari makhluk-makhluk gaib atau orang halus, yang memakai sarungan kera,” imbuhnya.

“Kelompoknya dipimpin oleh kera yang sangat besar bernama si Anggur,” sambungnya.

Pulau tersebut kemudian dijadikan sebagai tempat orang bernazar. Orang yang datang ke pulau itu membawakan sesajen seperti pisang, telur, nasi ketan dan sebagainya.

Sesajen ini biasanya disertai mayang pinang dan kembang kembang dan diberikan kepada kawanan monyet. Pulau tempat orang berhajat dan menabur kembang ini akhirnya disebut orang Pulau Kembang.

Baca Juga : Sejarah Sejumlah Peristiwa Besar di Bulan Ramadhan Hingga Perang Banjar

Lebih lanjut, kata Mansyur, Apabila ditelusuri kembali buku Hamilton, A New Account of the East Indies, yang ditulis tahun 1688-1723, berita tentang tenggelamnya Kapal Inggris memang benar adanya.

Mulai dari kisah tentang Kapten Barry hingga upaya Inggris mendirikan factory di Banjarmasin.

Sejarah lain mengemuk, catatan mengenai Pulau Kembang sebagai daerah tujuan wisata ketika dirilis Majalah Travel (wisata) Hindia Belanda, Tropisch Nederland, volume 12 yang terbit tahun 1939.

Dalam artikel bertajuk Bandjermasin, Borneo oleh M.J.A. Oostwoud Wijdenes, dituliskan bahwa kalau travelers berangkat dari Martapura berlayar melewati Kween ke barat, akan tiba di Sungai Barito, tepat di Apeneiland (Pulau monyet), Poelau Kembang. Sebuah delta yang tidak bisa dilalui. Tempat itu adalah tempat kawanan kera menetap (bermukim) secara permanen.

Dalam sumber lain, Tijdschrift voor Indische taal, land en volkenkunde, yang diterbitkan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1948, tertulis bahwa di Poelau Kembang, sebuah pulau kecil yang terletak di Sungai Barito, adalah “pulau monyet” yang terkenal, tepat di hilir dari muara Kween (Koein).

Sementara Dorothee Buur dalam tulisannya berjudul : Indische Jeugdliteratuur Geannoteerde Bibliografie van jeugdboeken over Nederlands-Indie en Indonesie, tahun 1825-1991, bercerita tentang keluarga Belanda baru saja tinggal di Bandjermasin (Borneo) dimana sang ayah memiliki pekerjaan di bidang kehutanan.

Dia sering pergi tur melalui hutan dengan perahu. Bersama putra tertuanya, Chris, kerap bepergian naik perahu. Chris dan ayahnya berlayar di sepanjang sungai Martapoera dan Barito ke Apeneiland (pulau monyet). Dalam perjalanan mereka menuju berburu buaya. Setelah sekitar satu tahun, sang ayah lalu dipindahkan ke Magelang (Jawa Tengah).

Pada saat penyerangan orang-orang Biaju, orang Inggris bersembunyi di kapal dengan dilengkapi senjata lengkap. Sayang dua kapal armada Inggris lainnya tidak bisa diselamatkan dan terbakar.

Seorang pria Belanda yang berusaha melarikan diri dalam penyerangan tersebut, bernama Hoogh Chamber juga ikut dibakar.

“Hal itu tidak terlepas dari persaingan sesama bangsa Eropa dalam memperebutkan perdagangan lada yang berpusat di Tatas. Pada saat itu, Bernard te Lintelo (1752-1757), bertindak sebagai pemimpin Belanda di Tatas yang dilanjutkan R. Ringholm (1757-1764),” pungkasnya.(airlangga)

Editor : Amran