Secara Psikologis perbuatan Bullying sangat berdampak kepada korbannya. Terutama anak-anak yang memiliki perilaku pasif karena sulit untuk melawan tindakan tersebut.
“Dampaknya seperti anak anak menarik diri dari pergaulan yang awalnya aktif sekarang menjadi pendiam, selain itu ia akan merasakan rasa cemas yang berlebihan sehingga mengalami kesulitan tidur dan akan condong mengurung diri di kamar bahkan mogok sekolah,” jelasnya.
“Jika di usia remaja mendapatkan perilaku dari Bullying itu tidak sedikit mereka akan melakukan tindakan menyakiti diri sendiri bahkan sampai melakukan tindakan susait atau bunuh diri seperti beberapa yang sempat tersebar di berita,” sambungnya.
Sebagai contoh, kata Melinda Bahri, seperti artis di Negara Korea tidak sedikit artisnya yang melakukan susait atau bunuh diri karena tidak tahan dengan tindakan Cyberbullying telah diterimanya.
“itu lah dampak paling besar yang dialami usia anak-anak dan remaja jika menjadi korban Bullying,” ungkapnya.
Jika hal tersebut tidak langsung ditangani oleh tenaga profesional usia anak dan remaja yang sudah terdampak menjadi korban Bullying maka akan terus berlanjut hingga ke usia dewasa.
“Jika terus terpendam trauma akan Bullying tersebut, bahayanya individu itu ketika tidak sanggup lagi mengatasi dalam dirinya maka berkemungkinan akan menjadi gangguan kejiwaan yang lebih berat lagi,” tuturnya.
Oleh karena itu, sebagai masyarakat harus peka terhadap orang-orang yang berada disekeliling jika mengalami perubahan perilaku.
“Kita harus menanyakan kan, kenapa ia sering diam, sering tiba tiba menangis orang seperti itu harus kita tanyakan. Hal itu, sebagai bentuk pertolongan psikologis seseorang,” pungkasnya.(airlangga)
Editor : Amran





