Pengrajin Tanggui Mulai Tergerus Zaman

Madinah, salah seorang pengrajin tanggui yang masih bertahan. (foto : azka/klikkalsel)

Bukan suatu pemandangan asing jika seseorang petani, nelayan hingga pedagang pasar terapung diatas jukung mengenakan sebuah tutup kepala berukuran besar dengan bentuk lingkaran setengah bola terbuat dari dauh nipah.

Madinah, salah seorang pengrajin tanggui yang masih bertahan. (foto : azka/klikkalsel)

Tanggui, ya itulah nama topi sering digunakan kebanyakan ibu rumah tangga untuk melindungi kepala dari terik matahari. Tanggui yang juga dikenal sebagai caping menjadi salah satu ciri khas Kalimantan Selatan dan menjadi topi tradisional Banua ini.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, pengrajin tanggui kini sudah mulai berkurang. Begitu juga tanggui sudah jarang didapati dijual di kawasan pinggiran Kota Banjarmasin. Saat ini tinggal beberapa orang saja pengrajin yang menekuni untuk membuat topi khas banjar tersebut.

Madinah (60) misalnya, warga Alalak Selatan Gg Intan RT11,  Banjarmasin Utara,  sudah membuat tanggui sejak usianya masih belasan tahun. Kerajinan turun temurun ini, berawal dari orangtuanya serta generasi sebelumnnya alias kakek buyutnya.

Setiap harinya Madinah hanya mampu membuat tanggui setengah jadi sebanyak 10 buah, kemudian seminggu barulah ia jual kepada penampung untuk disempurnakan menjadi sebuah tanggui yang bisa dipakai dan dijual dipasaran Rp6.000 satu tangguinya.

“Kalau sehari saya hanya mampu mengerjakannya 10 buah dan seminggu 100 buah, dengan harga  satunya Rp1.300, jika seminggu saya memperoleh Rp130.000. Kemudian uang yang didapat  dipotong untuk membeli bahan baku  daun nipah Rp 50.000 sebanyak sepuluh ikat dan keperluan dapur sisanya, ”katanya.

Dikatakannya, biasanya harga tanggui Rp2.000 per satu tangguinya, namun saat ini musim penghujan dan bukan musim tanam atau panen sehingga tanggu kurang diperlukan.

“Biasanya musim panen, musim kemarau, musim tanam (menanam padi), tanggui masih dicari,” ucap Madinah

Tentu kata Madinah, ada bantuan pemerintah untuk memberikan modal tambahan. Sehingga ia bisa meningkatkan pendapatan usaha yang digelutinya sejak kecil. Hangatnya tangan pemerintah tak pernah dirasanya kecuali hanya disuruh dalam mengikuti lomba.

“Dulu pernah di Gedung Sultan Suriansyah, saya kira pengrajin akan dibina ternyata ikut pameran dan perlombaan membuat tanggui saja,” ucapnya.(azka)

Editor : Amran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.