BANJARMASIN, klikkalsel.com – Belakangan ramai diberitakan diberbagai media terkait penggunaan obat cacing Ivermectin sebagai salah satu obat rujukan bagi penderita Covid-19.
Bahkan beberapa menyebutkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberi lampu hijau bagi Ivermectin untuk bisa menyandang predikat sebagai obat korona.
Namun beberapa pihak masih mempertanyakan keampuhan obat ini untuk membantu penderita melawan virus Corona.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Selatan, DR Dr M Rusdiansyah MKes SpPD K-GH FINASIM saat dimintai komentarnya menjelaskan bahwa Ivermectin memang sudah sejak lama dipercaya dapat membantu menghambat pertumbuhan virus.
Hal tersebut ujarnya didasarkan beberapa literatur dan penelitian, salah satunya yang dilakukan di Australia beberapa saat lalu.
Namun bagi penderita Covid-19 ia belum tahu apakah obat ini benar-benar dapat membantu. “Memang obat itu menurut hasil laboratorium dapat membantu menghambat perkembangan virus. Namun untuk Covid-19 masih butuh penelitian lebih lanjut,” terangnya, Selasa (29/6/2021).
Guna mendapatkan rekomendasi untuk menyandang obat sebuah penyakit, ujarnya dibutuhkan tahapan-tahapan uji terhadap sebuah obat.
Ia pun menyebutkan, BPOM saat ini hanya merekomendasikan untuk dilakukan uji klinis terhadap obat itu yang sampai sejauh ini telah sampai pada tahap 2 atau 3.
Namun pada hasil penelitian lain diluar sana, penggunaan Ivermectin tidak memberikan dampak signifikan bagi penderita Covid-19.
Sehingga ia berharap masyarakat tidak berburu dan menggunakan obat ini sembarangan. Karena sejauh ini ujarnya pihak dokter pun belum mendapatkan rekomendasi untuk menggunakan obat ini kepada penderita Covid.
Para peneliti ujarnya sejauh ini masih berjuang untuk menemukan obat yang mampu melawan virus. Berbagai bahan dan obat diteliti guna mendapatkan hasil terbaik. Sehingga masyarakat diharapkan hati-hati, bijaksana dan tidak sembarangan menggunakan obat seperti Ivermectin untuk pengobatan Covid.
“Karena pasti ada dampaknya, selain dampak positif tentu kita juga harus antisipasi terhadap dampak negatifnya bagi tubuh. Untuk itu masyarakat sebaiknya bijaksana dalam penggunaannya,” ujarnya lagi.
Ia pun menekankan bahwa obat tersebut bukan obat pencegahan Covid-19. Sehingga masyarakat tidak perlu mengkonsumsi obat tersebut dengan asumsi dapat mencegah tertular Covid-19.
“Jadi itu bukan obat pencegahan. Kalo pencegahan itu suplemen, makanan bergizi dan vitamin lain,” pungkasnya. (David)
Editor: Amran





