BANJARMASIN, klikkalsel.com – Laut Jawa hari itu tidak benar-benar bersahabat. Ombak terus bergerak ketika suasana panik menyelimuti proses pencarian dan evakuasi korban KM Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin.
Di tengah kondisi tersebut, Muhammad Badruzzaman, warga desa Tiwingan Baru Kecamatan Aranio kabupaten Banjar, kelahiran Martapura 2002, bersama tim Borneo Rescue turut terjun membantu proses evakuasi para korban.
Bagi Badruzzaman, yang baru menyelesaikan pendidikan D3 Akuntansi di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), pengalaman itu bukan sekadar operasi pencarian.
Ini menjadi kali pertama ia berhadapan langsung dengan proses evakuasi korban kecelakaan kapal di laut lepas setelah kurang lebih bergabung dengan Borneo Rescue.
“Saat pertama kali saya mengevakuasi korban, saya berdoa. Saya ikhlas membantu evakuasi ini dan melakukannya dengan kemampuan maksimal saya,” ujar Badruzzaman saat dihubungi, Senin (28/9/2026).
Dalam operasi tersebut, tim gabungan dibagi menjadi beberapa bagian, di antaranya tim penyelam dan tim evakuasi.
Tim evakuasi kemudian dibagi lagi. Sebagian bertugas menggunakan perahu karet, sementara lainnya berada di kapal besar yang menjadi titik penerimaan korban.
Badruzzaman bersama rekan-rekannya dari Borneo Rescue masuk dalam tim evakuasi.
Tugas mereka tidak mudah. Personel di perahu karet bertugas membungkus dan membawa korban menuju kapal besar.
Setelah itu, korban diterima tim di kapal besar untuk selanjutnya dibawa ke zona evakuasi. Seluruh proses dilakukan dengan menggunakan alat pelindung diri (APD).
“Tim evakuasi memakai perlengkapan APD sehingga tidak berkontak langsung dengan korban. Setelah melakukan evakuasi, kami juga akan didekontaminasi menyeluruh,” katanya.
Baca Juga : 10 Korban KM Virgo Ditemukan di Tiga Lokasi, Total 160 Korban Sudah Ditemukan, 83 Penumpang Masih Dicari
Baca Juga : Klaim Karhutla Terkendali, Pemprov Kalsel Siapkan Bantuan untuk Kalteng
Meski perlengkapan keselamatan telah disiapkan, tantangan di lapangan tetap ada. Kondisi laut dan pergerakan ombak membuat proses evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati. Perahu karet harus menyesuaikan gerakan gelombang agar proses pemindahan korban berjalan lebih aman.
“Kami menyesuaikan ombak supaya lebih enak saat mengevakuasinya,” ujarnya.

Sejak Selasa hingga Kamis atau tiga hari, Badruzzaman bersama tim turut dalam proses evakuasi. Sebanyak 35 korban berhasil dievakuasi dalam operasi tersebut.
Bagi Badruzzaman, setiap proses evakuasi menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
Namun, tantangan tersebut tidak membuatnya mundur. Ia memilih tetap menjalankan tugas hingga selesai.
Sebab, di balik setiap korban yang berhasil dievakuasi, ada keluarga yang sedang menunggu di daratan.
Ada yang menunggu kabar. Ada yang berharap orang tercintanya ditemukan. Ada pula keluarga yang hanya ingin mendapatkan kepastian setelah berhari-hari berada dalam penantian.
Badruzzaman mungkin tidak mengenal para korban satu per satu. Namun, bersama timnya, ia memilih hadir dan melakukan apa yang bisa dilakukan, menghadapi ombak, dan memberikan kemampuan terbaik untuk membantu proses evakuasi.
Bagi Badruzzaman, menjadi relawan bukan tentang siapa yang dikenal atau siapa yang akan melihat perjuangan mereka.
Tetapi tentang niat untuk membantu ketika orang lain sedang membutuhkan.
“Sebelum menjalankan tugas itu, saya selalu mengawalinya dengan satu hal sederhana yaitu berdoa agar bisa menjalankan tugas dan dapat memberikan bantuan terbaik,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi






