Anak Tenggelam Saat Kemah, Ibu Korban Pertanyakan Pengawasan Sekolah

Dua Siswa Tewas Tenggelam Saat Kemah, Sekolah Klaim Kegiatan Sudah Diusahakan Sesuai SOP BANJARMASIN, klikkalsel.com – Pihak sekolah akhirnya angkat bicara terkait meninggalnya dua siswa dalam kegiatan Kemah di kawasan Jalan Trans Kalimantan, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Minggu (6/9/2026). Sekolah menyatakan pelaksanaan kegiatan tersebut telah diupayakan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Namun, tragedi yang menewaskan dua siswa itu kini menjadi bahan evaluasi pihak sekolah. Wakil Direktur Kesantrian sekolah, Roy Akhriannoor mengatakan, panitia telah berupaya menjalankan seluruh rangkaian kegiatan sesuai prosedur yang berlaku. “Kami dari panitia ini berusaha sebaik mungkin di kegiatan itu sesuai dengan SOP melaksanakannya,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media di sekolah, Senin (7/9/2026). Roy menyebut, peristiwa tersebut kini telah ditangani pihak berwajib. Sekolah juga memastikan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan, termasuk sebagai bahan perbaikan ke depan. “Kegiatan ini sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Jadi kami berharap ke depannya itu ada perbaikanlah dari kami,” katanya. Terkait keluarga korban, Roy mengatakan pihak sekolah berencana mendatangi kediaman keluarga untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung. “Kami kan lagi mau mendatangi keluarga korban ini, dan juga kami mengucapkan duka cita yang sebesar-besarnya kepada keluarga korban ini. Semoga yang ditinggal, yang meninggal ini mendapat keberkahanlah,” jelasnya. Roy juga membenarkan bahwa kegiatan Kemah Akbar tersebut merupakan agenda rutin yang digelar sekolah setiap tahun. Namun, setelah insiden yang menewaskan dua siswa, pihak sekolah memastikan pelaksanaan kegiatan akan dievaluasi. “Tiap tahun. Ya, tentu akan dilakukan evaluasi,” singkatnya. Pernyataan pihak sekolah ini muncul setelah keluarga korban sebelumnya mempertanyakan sistem pengawasan selama kegiatan berlangsung, termasuk kondisi lokasi kolam tempat kedua siswa ditemukan tenggelam. Sementara proses hukum terkait peristiwa tersebut masih berjalan dan ditangani pihak kepolisian. Keluarga korban berharap penyelidikan dapat mengungkap secara jelas kronologi kejadian serta memastikan ada evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. (airlangga)

MARABAHAN, klikkalsel.com – Keluarga dua siswa MTs Muhammadiyah Al-Furqan Banjarmasin yang meninggal dunia dalam tragedi tenggelam saat kegiatan kemah di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, pada Minggu (6/9/2026) lalu, mempertanyakan sistem pengawasan terhadap para peserta.

Selain mempertanyakan kondisi lokasi, keluarga juga menyoroti rangkaian permainan yang dilakukan para siswa sebelum peristiwa nahas tersebut terjadi.

Ibu korban MFA (13), Atikah, mengatakan dirinya memperoleh informasi bahwa para siswa mengikuti permainan yang mengharuskan peserta bermain hingga kondisi tubuh mereka menjadi kotor. Setelah permainan selesai, para siswa disebut diarahkan untuk membersihkan diri di sekitar lokasi kolam.

“Jadi suruhannya, main paling kotor ja, pokoknya paling kotor yang menang. Masa anak kecil disuruh main kotor-kotor? Habis itu disuruh cucinya ke sana. Padahal ada WC di situ, kenapa kada di WC aja aman? Kalau tidak, anak ku tuh tidak kenapa-kenapa di dalam situ,” ucapnya kepada awak media, Senin (7/9/2026).

Bagi Atikah, penggunaan area kolam untuk membersihkan diri menjadi salah satu hal yang perlu dipertanyakan. Terlebih, menurut informasi yang diterimanya, terdapat fasilitas toilet di sekitar lokasi.

Ia juga menyoroti pengawasan selama kegiatan berlangsung. Atikah mengaku mendapat informasi bahwa jumlah guru yang berada di lokasi tidak banyak, sementara sebagian panitia merupakan kakak kelas para peserta.

“Ya Allah-Nya. tidak nyangka ulun, rasa kayak mimpi masih. tidak diawasi jua. Kabarnya pengawasnya itu pulang kayak tidak banyak gurunya ada di sana, panitianya rata-rata kakak kelasnya aja,” katanya.

Hingga kini, Atikah mengaku belum mengetahui secara pasti bagaimana MFA bisa berada di dalam kolam hingga akhirnya meninggal dunia.

Menurutnya, informasi yang diterima keluarga masih simpang siur. Bahkan, ada informasi bahwa korban sempat dianggap sedang bercanda oleh teman-temannya.

“Entah berenang atau entah tenggelam kan, banyak orangnya. Entah tesenggol kah, tidak tahu jua. Tiba-tiba di situ, dikira kawannya bercanda kah ini. Tapi ada sempat kawannya menolongi. Ada sempat yang melapor,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat keluarga meminta agar seluruh rangkaian kejadian diperiksa secara menyeluruh oleh pihak berwenang.

“Soalnya simpang siur. Tidak benar-benar mengetahui saya pastinya kayak apa kejadiannya tuh, kada ada yang menolongi,” katanya.

Atikah memastikan pihak keluarga telah melaporkan peristiwa tersebut kepada kepolisian.

“Sudah ada melaporkan. Bapanya melaporkan, ada,” ungkapnya.

Sorotan terhadap pengawasan juga disampaikan keluarga korban RAF (13).

Baca Juga : Orang Tua Siswa yang Tenggelam Kecewa dengan Pihak MTs Al-Furqan dan Minta Polisi Usut Tuntas

Baca Juga :Dua Siswa Tewas Tenggelam Saat Kemah, Sekolah Klaim Kegiatan Sudah Diusahakan Sesuai SOP

Hilda (42), keluarga korban, mempertanyakan bagaimana pengawasan dilakukan ketika para siswa berada di sekitar kolam.

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, RAF berada bersama sejumlah siswa lainnya di sekitar lokasi. Dalam kondisi tersebut, disebutkan ada siswa yang mengalami kesulitan untuk naik dari area kolam.

“Katanya dari temannya, ada berlima. Tiba-tiba yang bisa berenang itu diikutinya sebelah sini. Karena lamas (lemas) berat, jadi inya kada sanggup, langsung hendak naik kayak itu. Bepadah lawan pihak guru atau pembina,” ucap Hilda berdasarkan informasi yang diterimanya.

Hilda menyebut, respons dari guru atau pembina saat itu justru menyatakan area tersebut dangkal.

“Respon guru atau pembina ini cuma, ‘Ah itu cetek aja, rendah aja tempat anunya tuh.’ Padahal kalau orang tua yang menginjak, itu lumpurnya menyusut, dan itu banyak pohon teratai jadi bisa melilit. Kaki anak, apalagi adek tidak bisa berenang,” jelasnya.

Menurut Hilda, kondisi lokasi semestinya menjadi perhatian serius karena para peserta merupakan anak-anak dan tidak semuanya memiliki kemampuan berenang.

Ia juga mempertanyakan kapan kedua korban diketahui tenggelam serta bagaimana tindakan yang dilakukan setelah adanya laporan mengenai keberadaan siswa di sekitar kolam.

Bagi keluarga, pengawasan tidak seharusnya hanya dilakukan ketika kegiatan berjalan normal, tetapi juga harus mampu mengantisipasi risiko di setiap lokasi yang digunakan peserta.

“Merekan anak di bawah umur, masih labil, masih mencari jati diri. Harus diawasi,” katanya.

Sementara itu, Syaira (19), kakak sepupu korban, mengatakan keluarga masih berusaha menerima kepergian korban.

Ia menyebut korban sempat mendapatkan upaya pertolongan setelah ditemukan.

“Adek itu masih hidup, sudah dicoba. Sudah dibantu ayahnya. Sudah keluar air dari mulut, dari hidung, tapi memang sudah habis (meninggal dunia),” ujarnya.

Namun, bagi keluarga, pertolongan setelah korban ditemukan bukan akhir dari persoalan. Mereka masih membutuhkan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum kedua siswa ditemukan tenggelam.

Keluarga juga berharap proses hukum dapat mengungkap seluruh rangkaian peristiwa, termasuk aktivitas siswa sebelum kejadian, kondisi kolam, sistem pengawasan, hingga respons pihak yang bertanggung jawab ketika korban dilaporkan berada di area tersebut.

“Kami perlu keadilan, dan tidak terulang kembali,” pungkasnya. (airlangga)

 

Editor: Abadi