Air PDAM Tak Mengalir, Warga Banua Anyar Bawa Ember Antri Air Bersih

Warga Jalan 9 Nopember RT 10, Kelurahan Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur berbondong bondong mengantri untuk mendapatkan air bersih gratis

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Puluhan warga Jalan 9 Nopember RT 10, Kelurahan Banua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur, berbondong-bondong memenuhi tepi jalan sambil membawa ember dan berbagai wadah penampung air, Jumat (4/9/2026).

Di tengah kondisi kemarau, warga tampak rela mengantre demi mendapatkan bantuan air bersih gratis dari sebuah organisasi kemanusiaan.

Antrean tersebut menjadi gambaran sulitnya warga mendapatkan air bersih. Mereka mengaku sudah hampir satu bulan mengalami gangguan pasokan air, bahkan sebagian warga menyebut air PDAM tidak mengalir sama sekali ke rumah mereka.

Diantaranya Mama Tedi, salah seorang warga Jalan 9 Nopember RT 10, mengatakan krisis air bersih tersebut sudah dirasakan warga selama sekitar satu bulan terakhir.

“Sebulanan sudah, kata orang malam jalan airnya, tapi sebulan ini kedada jua jalan air PDAM-nya,” ujarnya.

Kondisi tersebut memaksa warga mencari berbagai cara untuk mendapatkan air. Mama Tedi mengaku sempat menggunakan mesin air dengan harapan dapat menarik air dari jaringan PDAM Bandarmasih, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Baca Juga : Turnamen Mini Soccer Bupati Cup Balangan Resmi Ditutup, PDAM Raih Juara

Baca Juga : PDAM Balangan Akan Realisasikan 667 Sambungan Air Gratis untuk Warga

“Tadi saja pakai mesin, setengah hati dari pagi sampai siang tidak ada juga keluar airnya,” tuturnya.

Menurut dia, sekitar pukul 11.00 Wita air sempat mengalir. Namun, debit air yang keluar sangat terbatas sehingga hanya cukup untuk mengisi satu bak penampungan di rumahnya sebelum mati kembali.

Di tengah kesulitan tersebut, bantuan air bersih yang datang dari organisasi kemanusiaan pun menjadi harapan bagi warga. Mereka membawa ember dan wadah masing-masing untuk mendapatkan air yang akan digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mama Tedi berharap pasokan air bersih dapat segera kembali normal. Jika harus dilakukan penghentian sementara, ia berharap dilakukan secara bergiliran agar masyarakat tidak mengalami kesulitan mendapatkan air selama berhari-hari.

“Ini airnya mati, satu bulan tidak memakai malah banyarnya semakin mahal,” imbuhnya.

Kesulitan mendapatkan air bersih, kata Mama Tedi, mulai berdampak terhadap kehidupan sehari-hari warga. Air bersih sangat dibutuhkan untuk minum dan memasak, sementara untuk mandi sebagian warga masih memanfaatkan air sungai.

“Air bersih ini kami gunakan untuk minum dan memasak, kalau masalah mandi kami pakai air sungai tidak masalah. Di sini banyak anak-anaknya kena muntaber,” pungkasnya. (airlangga)

Editor: Abadi