BANJARMASIN, klikkalsel.com – Nama Haji Boejasin mungkin tidak setenar Pangeran Antasari di telinga masyarakat generasi sekarang. Namun dalam catatan sejarah Perang Banjar (1859â1906), sosok ini tercatat sebagai salah satu pejuang paling merepotkan bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda, khususnya di wilayah Tanah Laut.
Dalam arsip kolonial Belanda, nama Haji Boejasin ditulis dengan beragam ejaan, seperti Hadji Boeijasin, Hadji Boeiyasin, atau Hadjie Boeyasin. Ia dikenal sebagai pejuang muda yang lihai bergerak dan sulit dilacak, hingga oleh pihak Belanda dijuluki âBerandal Licinâ karena kerap melakukan serangan mendadak dan membakar tangsi-tangsi militer Belanda.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menjelaskan, Haji Boejasin merupakan figur penting dalam dinamika perlawanan rakyat Banjar di kawasan selatan Kalimantan.
âHaji Boejasin adalah contoh pejuang lokal yang perannya sangat strategis. Dalam catatan Belanda, ia disebut sebagai pemuka agama yang fanatik dan berpengaruh, bahkan sebagian besar wilayah Tanah Laut pernah berada di bawah kekuasaannya,â ujar Mansyur, Selasa (10/2/2026).
Haji Boejasin memiliki nama lengkap atau nama asli Haji Muhammad Yasin, lahir di Desa Sabuhur pada tahun 1837. Sejak kecil, ia dikenal tekun mempelajari agama dan menjalani kehidupan religius.
Pada usia muda, ia telah menunaikan ibadah haji sebuah pencapaian yang pada masa itu menandakan kedalaman ilmu agama sekaligus latar belakang keluarga yang berkecukupan.
âNaik haji di usia muda pada abad ke-19 bukan hal biasa. Itu menunjukkan status sosial dan kapasitas keilmuan. Tidak heran jika kemudian ia tampil sebagai pemimpin perlawanan,â kata Mansyur.
Baca Juga :Â Sejarah Rumah Banjar Museum Wasaka, Monumen Cinta Juragan Intan Untuk Sang Anak
Baca Juga :Â Kapolda Kalsel Serahkan Sapi Limosin Super untuk Haul Guru Zuhdi ke-6
Dalam perjuangannya, Haji Boejasin berjuang bersama tokoh-tokoh besar Perang Banjar seperti Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana.
Saat bergabung dalam barisan perlawanan bersama Demang Lehman dan Pangeran Antasari, usianya diperkirakan baru sekitar 20 tahun.
âMeski masih sangat muda, Demang Lehman melihat potensi kepahlawanan dalam diri Haji Boejasin. Keberanian, kecerdikan, dan kharismanya membuat ia cepat diakui sebagai pemimpin lapangan,â jelas Mansyur.
Pada masa itu, wilayah Tanah Laut dan Pelaihari berada di bawah pengawasan langsung pejabat kolonial Belanda.
Kata Mansyur, pemerintahan sipil dan militer dipimpin oleh Kapten Infanteri F. van Genderen, sebelum kemudian digantikan oleh Letnan Satu Infanteri J.H. Romswinckel pada 4 Oktober 1864, dan setahun kemudian oleh Letnan Satu Infanteri P. van Drimmelen.
Struktur pemerintahan lokal juga telah dibentuk Belanda dengan menunjuk kepala-kepala wilayah, seperti Kiai Abukusin di Pleiarie (Pelaihari) dan Tabanio, Haji Matali di Maluka, serta Achmad di Satoei. Bahkan, di Pelaihari diangkat seorang Kapten Cina bernama Go-Ho.
âNamun, susunan administrasi ini tak sepenuhnya mampu meredam perlawanan rakyat. Justru di tengah sistem kolonial itulah, tokoh-tokoh seperti Haji Boejasin muncul dan memimpin perlawanan berbasis agama dan rakyat,â jelas Mansyur.
Dalam catatan kolonial, Haji Boejasin disebut memiliki istri bernama Salamah, dengan dua putra, Mohammad Hassan dan Mohammad Nassier. Ia juga didukung oleh keluarga dan pengikut setia, di antaranya saudara iparnya Sauida, serta pengikut bernama Mohamad Tanim dan Kudu (Dula).
Kiprah Haji Boejasin menunjukkan bahwa Perang Banjar bukan hanya perjuangan para bangsawan, tetapi juga digerakkan oleh pemuda-pemuda religius yang berani dan militan.
âHaji Boejasin adalah simbol perlawanan rakyat dan ulama muda Banjar. Sayangnya, peran tokoh seperti ini sering terpinggirkan dalam narasi sejarah arus utama,â pungkasnya.(airlangga)
Editor: Amran





