Sejarah Penyebaran Islam di Tanah Banjar Akan Difilmkan

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Film sejarah di Kalimantan Selatan masih terbilang minim. Pun demikian, perlahan mulai digarap oleh Gubernur Kalsel Sahbirin Noor yang menggagas Film Perang Banjar pada 2018 lalu. Di periode kedua menjabat, gubernur akrab disapa Paman Birin memastikan Pemprov Kalsel akan menggarap film yang menceritakan sejarah islam masuk di banua.

Hal itu diungkapkan Paman Birin saat menghadiri acara wisuda Politeknik Tanah Laut, Pelaihari, belum lama tadi. Dia mengatakan, bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarah. Terlebih, ujarnya, sejarah daerah patut diketahui luas terkhusus generasi milenial dan generasi Z.

“Insya Allah ke depan, kita akan bikin lagi film dengan nuansa masuknya Islam di Bumi Kalimantan. Mudah-mudahan sukses ya,” ucapnya dalam sambutan.

“Mengingat pendahulu kita para ulama, kiai menyebarkan islam di bumi Kalimantan Selatan,” pungkasnya Paman Birin.

Baca juga: Dida : Kompetisi Paman Birin Cup Merupakan Momen Comeback-nya Dunia Sepak Bola dalam Melawan Covid-19

Sementara itu, sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur mengapresiasi rencana pembuatan film sejarah masuknya dan penyebaran islam di Banua. Menurutnya, film tersebut bisa mencerminkan islam di tanah Banjar yang memiliki ciri khas berbeda dari daerah lain.

Dia menyarankan saat pembuatan film nanti agar disesuaikan dengan naskah resmi sejarah dan melibatkan para akademisi sejarawan, tokoh masyarakat dan agama. Guna kedepan, tidak menimbulkan kontoversi di masyarakat.

“Bahkan banyak anggapan Islam masuk di Kalimantan, Banjar dulu dan pengaruhnya paling luas lewat Kesultanan Banjar,” ungkapnya.

Dia menambahkan, saking luasnya pengaruh islamisasi Kesultanan Banjar merambah hingga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Selain itu, penyebaran islam saat ini menjangkau beberapa daerah di Kalimantan Barat.

“Secara umum masuk islam ke Kalimantan ada dua sumber. Kalau dari selatan, itu dari Jawa pengaruhnya ke Kesultanan Banjar,” jelasnya.

Di samping itu, dia menyampaikan sebelum Kesultanan Banjar, islamisasi diawali pengaruh perdagangan di Kalimantan pada abad ke 15 masehi. Wilayah Tanjungpura dan daerah Matan di Kalimantan merupakan pusat perdagangan intan kala itu.

Umumnya perdagangan ini dikuasai pedagang Cina. Terdapat tiga jalur perdagangan intan sampai ke Landak (Kalimantan bagian barat), melalui Sukadana-Tanjungpura hingga Matan yang menjadi pusat perekonomian era itu.

Baca juga: Paman Birin Tancap Gas ke 13 Kabupaten/Kota Genjot Vaksin Bergerak Selama 4 Hari

Orang-orang Jawa menyebut kota Matan untuk seluruh pulau Kalimantan. Hanya Portugis yang menyebut Borneo, suatu lafal keliru dari Brunai.

Dua daerah lainnya dari jalur perdagangan intan adalah Lawe dan Sambas. Lawe atau Sukadana sejak abad ke-16 sudah mulai jatuh di bawah hegemoni kekuasaan kerajaan di Jawa sampai mencapai titik jenuh masa Mataram awal abad ke- 17 .

Sumber naskah tertua yang menyebutkan bahwa Kalimantan pada periode menjelang masuknya Islam di Kalimantan ialah Negara Kartagama, yang ditulis Mpu Prapanca tahun 1365, menuliskan daerah Kalimantan bagian selatan sepanjang Sungai Negara, Batang Tabalong, Sungai Barito dan sekitarnya.

Dalam perkembangannya, muncul Kesultanan Banjarmasin menggantikan Kerajaan Negara Daha sebagai benteng terakhir institusi kerajaan bercorak Hindu dan setelah itu digantikan dengan institusi kesultanan bercorak Islam.

Sementara pada kronik lokal, misalnya Naskah Hikayat Banjar (Kalimantan bagian selatan) dan Salasilah Kutai (Kalimantan bagian timur) tidak ada penyebutan angka tahun kapan masuknya agama dan budaya Islam di Banjarmasin maupun ke Kutai.

Salah satu episode penting dalam proses Islamisasi di Kalimantan ini telah terungkap dalam satu fragmen masuknya Islam di Kalimantan bagian selatan bersumber utama dari Naskah Hikayat Banjar. Sementara di Kalimantan Timur, tersebarnya Islam banyak dipaparkan dalam Hikayat Kutai.

“Hikayat Banjar yang telah menyebutkan hubungan Banjar dengan Demak. Disebutkan dalam Hikayat tersebut bahwa Raja Banjar Raden Samudera telah ditasbihkan sebagai Sultan oleh Penghulu Demak dan oleh seorang Arab diberi gelar Sultan Suryanullah,” pungkas Mansyur mengutip artikel Kartodirdjo, 1975. (rizqon)

Editor: Abadi