Operasi SAR KM Virgo Ditutup, 53 Penumpang Masih Belum Ditemukan

Konferensi pers penutupan operasi SAR KM Virgo Transport 8.

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Setelah 53 hari melakukan pencarian, Basarnas resmi menutup operasi SAR KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Laut Jawa. Di balik keputusan tersebut, masih ada 53 orang belum ditemukan dari total 243 penumpang kapal yang tenggelam pada 13 September 2026 lalu.

Selama operasi SAR telah ditemukan 108 orang dinyatakan selamat dan 82 orang meninggal dunia. Kendati demikian, penutupan operasi bukan berarti pencarian korban berakhir sepenuhnya.

Basarnas masih membuka peluang mengaktifkan kembali operasi apabila proses pengangkatan bangkai kapal atau salvage mulai dilaksanakan.

Kepala Kantor SAR Banjarmasin, I Putu Sudayana, mengatakan keputusan penutupan diambil berdasarkan hasil evaluasi seluruh unsur SAR yang terlibat. Selama 53 hari, pencarian telah dilakukan secara maksimal melalui jalur darat, laut, udara hingga penyelaman di bawah permukaan air.

Penutupan tersebut juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, yang mengatur pelaksanaan operasi SAR selama tujuh hari dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.

“Dari hasil evaluasi pencarian selama 53 hari, tidak ada tanda-tanda korban ditemukan lagi di atas permukaan perairan. Tanda-tanda korban ditemukan juga sangat kecil, sementara upaya salvage belum bisa dilaksanakan dan masih dalam proses,” jelasnya dalam konferensi pers di Kantor Pelindo Banjarmasin, Rabu (4/11/2026).

Selama operasi berlangsung, Basarnas mengerahkan kekuatan gabungan dari TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, Jasa Raharja, BMKG serta berbagai potensi SAR lainnya.

Pencarian dilakukan menggunakan helikopter dan pesawat untuk menyisir perairan, kapal-kapal di permukaan laut, serta penyelaman oleh tim gabungan Basarnas, TNI AL, Polri dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI).

Penyisiran juga menjangkau kawasan pesisir Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah hingga wilayah Kalimantan Barat. Meski operasi resmi ditutup, Basarnas tidak sepenuhnya menghentikan pemantauan.

Putu memastikan pihaknya bersama seluruh pemangku kepentingan telah berkomitmen membuka kembali operasi SAR apabila pengangkatan bangkai kapal memungkinkan untuk dilakukan.

Baca Juga : Belum Ada Kepastian, Keluarga Korban KM Virgo Kembali Desak Pengangkatan Kapal

Baca Juga : 12 Jenazah Korban KM Virgo Kembali Teridentifikasi, Total 63 Sudah Dikenali DVI Polda Kalsel

“Apabila nanti di kemudian hari ada tanda-tanda korban ditemukan dan operasi salvage atau pengangkatan kapal itu bisa dilaksanakan, maka operasi SAR ini akan kita buka kembali,” tandasnya.

Di sisi lain, PT Virgo Karya Shipping (VKS) memastikan persiapan pengangkatan bangkai kapal masih berjalan. Namun, perusahaan masih mempertimbangkan metode salvage yang paling memungkinkan diterapkan dengan memperhatikan kondisi kapal dan cuaca laut.

Juru Bicara PT VKS, Simson Fransiscus Rihi, mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah persiapan sejak awal, termasuk pembersihan dan penanganan sisa minyak serta bahan pencemar di dalam badan kapal.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko pencemaran sekaligus memastikan jarak pandang penyelam tidak terganggu ketika proses penyelaman dan persiapan salvage berlangsung.

Namun, pelaksanaannya tidak selalu berjalan mulus. Cuaca yang berubah-ubah, arus bawah laut yang kuat hingga pergerakan kapal menjadi kendala bagi tim di lapangan.

Dalam kondisi tertentu, penyelaman maupun pembersihan harus dihentikan sementara apabila ada kapal besar melintas atau kondisi alam dinilai membahayakan. Akibatnya, waktu penyelaman terkadang hanya berkisar dua hingga dua setengah jam.

“Kami terus melakukan komunikasi dan meminta bimbingan serta arahan dari tim Basarnas. Karena dalam hal ini mereka lebih berpengalaman dan mempunyai keahlian, sehingga kami akan bekerja sama dengan tim Basarnas,” kata Simson.

Terkait metode pengangkatan, pihaknya masih berkomunikasi dengan tim TNI untuk menentukan teknik yang paling aman dan efisien. Pilihannya antara memotong bagian kapal di bawah air atau mengapungkan bangkai kapal.

Pertimbangan tersebut semakin penting karena kondisi cuaca mulai memasuki masa peralihan, yang berpotensi meningkatkan risiko gelombang dan angin kencang di laut.

Simson mengungkapkan, pihaknya telah mendapatkan teguran keras dari Kementerian Perhubungan agar proses pengangkatan kapal segera mendapatkan kepastian. Sebagai tindak lanjut, PT Virgo Karya Shipping dijadwalkan menggelar pertemuan dengan tim TNI pada 13 November mendatang.

Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan keputusan mengenai metode serta pihak yang akan menjadi pelaksana pengangkatan bangkai KM Virgo Transport 8.

“Rencananya tanggal 13 kami ada pertemuan dengan tim TNI untuk bisa memutuskan siapa yang akan menjadi pelaksana dalam hal ini. Mohon doanya supaya segera bisa diputuskan,” ujarnya.

Dengan penutupan operasi SAR dan belum adanya kepastian pelaksanaan salvage, nasib korban yang kemungkinan masih berada di dalam bangkai kapal kini bergantung pada percepatan keputusan pengangkatan kapal. (rizqan)

Editor: Abadi