Tidak sesekali warga sekitar melakukan penggalangan dana untuk membeli material guna menambal lubang dan jalan rusak tersebut kepada pengguna jalan. Namun aksi mereka ditegur dan dinilai pungutan liar.
“Iya, kemarin ada yang menegur dan menilai kami pungutan liar, padahal niat dan itikad kami baik untuk beli material dan menambal jalan tersebut, itu sudah jelas tujuannya,” ungkapnya.
Akibat adanya teguran tersebut, kini pihaknya dan warga setempat sepakat akan menonton saja jika ada kejadian amblas. Guna menghindari tuduhan negatif tersebut.
“Sekarang kita liatin saja, makanya di lubang yang sering amblas kita pasang rambu pohon pisang,” tegasnya.
Meskipun begitu, pihaknya tidak ada niat ingin menutup jalan tersebut hanya memberikan rambu untuk pengguna jalan dan ia juga berharap pemerintah maupun dinas terkait bisa cepat tanggap mengatasi jalan berlubang di kawasannya itu.
“Jalan ini penting sekali bagi masyarakat. Jangan dibiarkan terus-terusan seperti ini. Kami berharap dilakukan perbaikan,” harapnya.
Yani (52) ibu dari 5 orang anak yang rambu pohon pisang ditanam warga tersebut bertepatan terletak di depan rumahnya mengungkapkan dalam satu hari sebelum adanya penanda itu truk yang amblas mencapai 6 sampai 8 buah.
“Kemarin sore di pasang warga, sebelum ada itu, 6 sampai 8 bahkan lebih truk amblas di situ,” ungkapnya
Baca Juga : Gegara Rebutan Kursi, Pemuda di Pasar Lama Tewas Dicelurit





