Hj Sabah, Pembuat Bubur Ayam Menu Berbuka di Masjid Sabilal Muhtadin

Hj Sabah merupakan sosok pembuat bubur Ayam yang disajikan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin saat berbuka puasa (foto : azka/klikkalsel)

BANJARMASIN, klikkalsel– Sudah menjadi kegiatan rutin di bulan Ramadhan kalau Masjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin menjamu warga masyarakat berbuka puasa.

Ratusan bahkah ribuan ummat Islam yang berbuka puasa di masjid tersohor di Kalimantan Selatan ini dijamu dengan bubur ayam yang memiliki rasa khas dan sudah pasti lezat. Namun siapakah peracik bumbu dan pembuatnya.

Seorang perempuan berusia 51 Tahun, dengan panggilan akrab Hj Sabah merupakan sosok dibalik pembuat bubur ayam yang disajikan di Masjid Kebanggan kota Banjarmasin.

Hj Sabah sudah 24 tahun dipercaya pengurus Masjid Sabilal untuk membuat bubur ayam. Ia tinggal di kawasan Antasan Kecil Timur di sebuah rumah tepian sungai.

“Kalau untuk membuat bubur ayam untuk berbuka kurang lebih sekitar 24 tahun,” katanya, Rabu (8/5/2019).

Setiap harinya pada pukul 06.30 Wita hingga pukul 15.00 Wita, Hj Sabah memasak bubur untuk 1.200 porsi. Bahkan lebih. Karena ada juga sejumlah orang yang membeli untuk menu berbuka di sejumlah masjid, langgar atau mushala.

Saat klikkalsel.com mengunjungi kediaman Hj Sabah, ia nampak sibuk bersama ibu-ibu lainnya yang bekerja membuat bubur ayam. Ada dua lokasi dan beberapa pekerja dalam proses pembuatan bubur ayam tersebut dibagian dalam rumah sejumlah pekerja memotong-motong sayuran, daging, kentang , wartel telur, irisan ayam, rempah-rempah dan minyak samin dan sebagainya, untuk dihalaman rumah proses mengaduk bubur.

“Untuk mengaduk bubur tak boleh lengah sedikitpun, prosesnya terus diaduk sebab bisa gosong jika kita lalai dan tentu rasanya akan berubah,” ucap Hj Sabah.

Dalam urusan bumbu ia membuat sendiri yang merupakan resep dari turunan mertuannya sehingga bukan sembarang orang yang bisa melakukannya.
“Ani Ariani anak saya yang bis menakar bumbu-bumbu tersbut mudahan saja dia nanti bisa melanjutkan amanah ini kelak, rasanya sama persis dengan olahan saya” ucapnya.

Sekitar pukul 16.30 Wita bubur tersebut dibawa ke Masjid Sabillal Muhtadin dan siap untu dibagikan, dah hal tersebut ia lakoni puluhan tahun, meski lelah, dan terkadang sedikit sakit namun ia terus membuat bubur untuk berbuka.

“Semoga saja menjadi pahal bagi saya, kita tidak tahu mereka yang berbuka puasa tersebutb bisa dari musafir, warga yang kurang mampu dan sebagainnya,” ucapnnya.(azka)

Editor : Amran