Sedangkan, untuk dimsum isiannya ada daging ayam segar, wortel dengan kulit pangsit, saos tomat dan saos sambal.
“Dalam satu bulannya kurang lebih 50kg daging sapi. Itu bisa menghasilkan sekitar 5.000 pcs kebab. Dimana seminggu, dua kali produksi dengan sekali produksi menghabiskan 6kg daging sapi dan 10kg daun selada,” ucapnya.
Dikatakannya pula, kebab dan dimsum produksi Mupidah tanpa bahan pengawet, serta bisa bertahan hingga satu bulan lamanya jika disimpan di dalam freezer.
“Ada beberapa varian untuk kebab, seperti isi daging sapi sayur, isi ayam sayur, isi full daging tanpa sayur dan full ayam tanpa sayur, harganya Rp 40.000 per box, isi 5 pcs.
Sedangkan, pilihan kebab lainnya, isian tetap sama, namun dengan tambahan keju mozarella harganya Rp 55.000 per box, isi 5 pcs. Sementara, untuk dimsum harganya Rp 30.000 per box, isi 10 pcs,” ungkap Mupidah yang memiliki reseller hingga Kalimantan Tengah.
Saat ditanya bisnisnya di tengah pandemi Covid-19, ia menuturkan, awal mulanya memang bisnis tersebut sangat berpengaruh bahkan sempat stagnan, dan itu terkendala pengiriman. Sebab kebanyakan resellernya berada di luar Banjarmasin.
“Saat awal wabah Corona mulai menyebar dan diberlakukanya PSBB, usaha sempat tertahan, tetati setelah beberapa bulan. Alhamdulillah, sekarang usaha makanan beku berjalan normal dan cukup stabil,” pungkasnya. (azka)
Editor : Akhmad





