BANJARMASIN, klikkalsel.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengingatkan kondisi cuaca di wilayah Kalsel pascabanjir masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi.
Kepala Stasiun Klimatologi Kalsel yang baru, Klaus Johannes Apoh Damanik, mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, Kalsel saat ini masih berada dalam periode musim hujan. Meski intensitas hujan tidak setinggi saat puncak banjir beberapa waktu lalu, potensi hujan sedang hingga lebat masih dapat terjadi secara sporadis dan tidak merata di sejumlah wilayah.
“Curah hujan saat ini cenderung berada pada kategori menengah hingga tinggi pada waktu-waktu tertentu, dan berpotensi terjadi secara lokal di beberapa daerah,” ujar Klaus, Minggu (18/1/2026).
BMKG Kalsel juga mencatat potensi hujan yang dapat disertai petir dan angin kencang, terutama di wilayah dataran rendah serta kawasan daerah aliran sungai (DAS). Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu genangan ulang, khususnya apabila hujan lebat terjadi secara berturut-turut.
“BMKG Kalsel memastikan pemantauan cuaca dilakukan secara intensif dan akan segera meng-update informasi apabila terjadi perubahan signifikan yang berpotensi menimbulkan dampak bagi masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga : Gempa 4,8 M, BMKG Kalsel: Gempa Dangkal Akibat Patahan Meratus
Baca Juga : BMKG Peringatkan Puncak Banjir Rob di Kalsel Terjadi 10–21 Juni 2025
Terkait durasi, BMKG memperkirakan pola curah hujan menengah hingga tinggi masih akan berlangsung hingga akhir musim hujan sekitar Maret hingga April. Memasuki periode April hingga Mei, intensitas hujan diprediksi mulai berangsur menurun seiring masa transisi menuju musim kemarau, meski hujan lokal dengan intensitas cukup tinggi masih berpeluang terjadi pada masa pancaroba.
Menanggapi peringatan tersebut, Anggota DPRD Kalsel H. Achmad Maulana meminta, seluruh pihak agar tidak lengah meskipun kondisi banjir di sejumlah wilayah mulai berangsur surut.
Menurutnya, potensi hujan yang masih tinggi harus menjadi dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan dan langkah mitigasi di lapangan, khususnya di daerah rawan banjir.
“Kita tidak boleh menganggap situasi sudah aman sepenuhnya. Peringatan dari BMKG ini harus menjadi perhatian serius agar banjir susulan bisa dicegah sejak dini,” ujar Maulana.
Ia juga menekankan, pentingnya koordinasi lintas sektor antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, hingga aparat di tingkat desa untuk memastikan kondisi sungai, drainase, dan DAS tetap terkendali.
“Selain peran pemerintah, masyarakat juga perlu terus waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Informasi peringatan dini dari BMKG harus cepat disampaikan agar risiko bencana dapat diminimalisasi,” pungkasnya.(azka)
Editor : Akhmad





