BANJARMASIN, klikkalsel.com – Perlawanan Panglima Wangkang terhadap kolonial Belanda berakhir dalam sebuah pertempuran sengit di Benteng Durakhman, kawasan Marabahan, pada akhir Desember 1870.
Wangkang gugur setelah sebuah peluru mengenai kepalanya ketika pasukan Belanda mengepung benteng pertahanannya.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menjelaskan kisah akhir perjuangan Panglima Wangkang menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian perlawanan masyarakat di Kalimantan Selatan terhadap kekuasaan kolonial Belanda.
“Mengacu pada buku karya Helius Sjamsuddin, Pagustian dan Tumenggung, Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti: Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906. Belanda mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menghadapi Wangkang,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Pada 7 Desember, Panglima Tentara di Batavia mengirimkan Batalion ke-13 dari Surabaya. Pasukan tersebut terdiri dari 13 opsir dan pembantu opsir serta 360 serdadu di bawah komando Mayor P.R. Rochemont.
Dua hari kemudian pasukan tiba di Banjarmasin. Pada 11 Desember, ekspedisi Belanda bergerak menuju Marabahan menggunakan kapal perang Banka dan Admiraal van Kinsbergen. Kapal Onrust dan Kapiten van Os sebelumnya telah ditempatkan di Marabahan.
Kekuatan pasukan ekspedisi tersebut terdiri dari dua opsir dan 240 serdadu Batalion ke-13 serta dua opsir dan 60 serdadu dari garnisun Banjarmasin. Pasukan Suta Ono juga ikut membantu operasi tersebut.
“Pengerahan pasukan dan persenjataan Belanda menunjukkan bahwa menghadapi Wangkang bukan operasi kecil. Mereka datang dengan kekuatan militer yang cukup besar,” ujar Mansyur.
Puncaknya terjadi pada 27 Desember. Pasukan Belanda mengepung benteng pertahanan Wangkang. Pertempuran pun pecah.
Belanda menggunakan kanon berukuran 5,5 inci dan melemparkan 15 granat ke dalam benteng. Persenjataan tersebut jauh lebih kuat dibandingkan senapan yang digunakan para pejuang.
Di tengah pertempuran, Wangkang terkena tembakan di bagian kepala dan gugur. Para pengikutnya kemudian berusaha menyelamatkan jasad sang panglima menggunakan jukung dan membawanya ke tempat yang dirahasiakan.
Pasukan Wangkang yang masih bertahan akhirnya meninggalkan benteng melalui sisi lain dan berpencar. Sebagian melarikan diri menuju Dusun Hulu, sementara lainnya menyerah atau ditangkap Belanda.
Mansyur mengatakan, setelah menguasai benteng, pasukan Belanda menemukan banyak ceceran darah. Mereka kemudian berusaha mencari jasad Wangkang karena sebelumnya telah memberikan hadiah bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya hidup atau mati.
“Dalam sumber sejarah lokal juga terdapat cerita mengenai adanya pengkhianatan yang membocorkan kelemahan Wangkang. Cerita tersebut menyebutkan bahwa ia dipercaya memiliki kekebalan terhadap senjata tertentu dan hanya dapat dilukai menggunakan peluru emas,” kata Mansyur.
Baca Juga : Mengenal Panglima Wangkang Bagian 1, Putra Pambakal Kendet yang Tumbuh di Tengah Tekanan Belanda
Baca Juga : Mengenal Panglima Wangkang Bagian 2, Jejak Perlawanan dari Perang Onrust hingga Menjadi Panglima Dayak
Cerita mengenai peluru emas tersebut menjadi bagian dari tradisi tutur masyarakat dalam mengenang Wangkang. Dalam catatan sejarah lokal, Belanda juga disebut menawarkan hadiah ribuan gulden bagi siapa saja yang dapat menangkap Wangkang hidup atau mati.
Setelah Wangkang gugur, dua pengikutnya, Panglima Muhammad dan Panglima Odi, disebut membawa jasadnya menggunakan jukung dan menyembunyikannya di kawasan hutan.
Belanda kemudian berusaha melacak keberadaan jasad tersebut di sekitar Simpang Durakhman. Pencarian berlangsung bersama pihak keluarga dan masyarakat.
Dalam kesepakatan yang dibuat, apabila pihak keluarga lebih dahulu menemukan jasad Wangkang, Belanda tidak akan mengambilnya dan jasad tersebut dapat dimakamkan sesuai adat. Namun, jika Belanda lebih dahulu menemukannya, jasad tersebut menjadi urusan mereka.
“Setelah 13 hari pencarian, jasad Wangkang akhirnya ditemukan pada 8 Januari 1871 oleh anaknya, Ishak, bersama menantunya, Kiai Haji Demang Karsa Negara,” ungkapnya.
Jasad tersebut ditemukan di dalam air dan ditutup menggunakan balok kayu. Dalam kisah yang diwariskan masyarakat, jasad Wangkang disebut masih dalam keadaan utuh dan tidak berbau.
Pada malam harinya, jasad Wangkang dibawa ke Marabahan. Setelah disalatkan, jasadnya kemudian dimakamkan pada malam Jumat di Kampung Bentuk (Tengah), di belakang rumah kediamannya.
Menariknya, Wangkang tidak dimandikan dan tidak menggunakan peti mati. Hal tersebut dikaitkan dengan amanat yang disebut pernah disampaikannya sebelum gugur.
Dalam bahasa Bakumpai, amanat itu berbunyi: Kalau yaku matei mayatku ela impandui, karena setiap yaku batulak manyarang Balanda, yaku jadi ba’ud. Yaku rela matei malawan Balanda.
Artinya, apabila dirinya meninggal dunia, jasadnya tidak perlu dimandikan karena setiap berangkat menyerang Belanda, dirinya telah berwudu dan telah rela meninggal dalam perjuangan melawan Belanda.
“Bagian ini menunjukkan bagaimana masyarakat kemudian mengenang Wangkang bukan hanya sebagai tokoh perlawanan, tetapi juga sebagai figur yang memiliki ikatan kuat dengan nilai keagamaan, adat dan perjuangan masyarakat pada masa itu,” ujar Mansyur.
Gugurnya Panglima Wangkang pada akhir 1870 menandai salah satu babak penting dalam rangkaian perlawanan terhadap kolonial Belanda di wilayah Kalimantan.
Setelah kematiannya, para pengikutnya tercerai-berai, sementara sebagian yang tertangkap dijatuhi hukuman, termasuk digantung dan diasingkan.
“Namun, jejak perjuangan Wangkang tetap hidup dalam ingatan masyarakat melalui catatan sejarah maupun cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi






