BANJARMASIN, klikkalsel.com — Nama Panglima Wangkang dikenal dalam sejarah perlawanan masyarakat Dayak di wilayah Barito dan Kalimantan terhadap kolonial Belanda. Kiprahnya mulai tercatat ketika ia terlibat dalam penyerangan kapal perang Belanda, Onrust, pada 26 Desember 1859.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menuturkan, keterlibatan Wangkang dalam perlawanan tersebut bermula ketika Tumenggung Surapati memerintahkan penyerangan terhadap kapal Onrust di kawasan Lantotour.
Saat perundingan antara pihak Dayak yang diwakili Tumenggung Surapati dengan pihak Belanda yang dipimpin Van der Valde berlangsung, situasi berubah menjadi pertempuran.
“Ketika perundingan terjadi antara pihak Dayak (Tumenggung Surapati) dengan pihak Belanda (Van der Valde), ternyata anak buah Surapati sudah tidak sadar lagi untuk menyerang kapal itu, maka salah satu dari mereka meneriakkan ‘amuk’,” kata Mansyur, mengutip catatan sejarah tersebut, Selasa (22/9/2026).
Teriakan itu kemudian memicu serangan besar. Sekitar 500 hingga 600 orang Dayak datang menggunakan perahu, termasuk perahu milik Wangkang. Pertempuran berlangsung dalam jarak dekat di atas kapal Onrust.
“Wangkang pun ikut berperang dengan gagah berani membunuh serdadu-serdadu Belanda dengan mandaunya di atas kapal itu,” ujarnya.
Menurut Mansyur, pada awalnya Wangkang hanya terlibat sebagai rakyat biasa yang menjalankan perintah Tumenggung Surapati. Namun, keberaniannya dalam pertempuran membuat perannya semakin menonjol.
“Pada awalnya Wangkang hanya terlibat sebagai salah satu seorang rakyat biasa yang ikut berperang karena diperintahkan oleh Tumenggung Surapati, tetapi malah menjadi ujung tombak dari peperangan itu,” jelasnya.
Dalam pertempuran tersebut, sekitar 90 orang Belanda tewas. Hanya Haji Taib, yang menjadi penghubung antara orang Dayak dengan pihak Belanda dalam perundingan di kapal Onrust, yang dibiarkan hidup.
Sebelum kapal Onrust ditenggelamkan, pasukan Dayak mengambil berbagai barang, senjata dan mesiu yang ada di kapal. Perlengkapan tersebut kemudian dipersiapkan untuk menghadapi serangan Belanda berikutnya.
Nama Wangkang pun mulai menjadi perhatian pihak kolonial. Dokter Le Rutte bahkan menuduh Wangkang sebagai orang yang membunuh Dokter Dilg di atas kapal Onrust.
“Sejak saat itu nama Wangkang sudah mulai diperhitungkan Belanda dan mulai saat itu pula Wangkang mulai banyak terlibat dalam perjuangan melawan Belanda,” kata Mansyur.
Setelah penenggelaman Onrust, Wangkang bergabung dengan Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati. Ia untuk sementara tidak kembali ke Bakumpai. Selain karena tunduk kepada Surapati, kondisi keamanan juga menjadi pertimbangan.
Belanda diperkirakan akan melakukan pengejaran terhadap orang-orang yang terlibat dalam penenggelaman kapal Onrust. Di sisi lain, Wangkang juga masih memiliki persoalan utang dagang yang belum diselesaikan.
Sebulan kemudian, pada Januari 1860, Belanda mengirim ekspedisi hukuman ke wilayah Dusun Atas. Sejumlah desa, sawah dan ladang di bagian atas Mangkatip dihancurkan.
Belanda juga membakar dan menghanyutkan rakit-rakit atau “talatap” di sepanjang Sungai Barito.
“Hal ini membuat Wangkang sangat marah dan mengalami kerugian yang cukup besar,” ujar Mansyur.

Baca Juga : Sejarah Panjang Tragedi Pelayaran Menuju Banjarmasin Sejak 1896 Hingga Tragedi Virgo Transport 8
Baca Juga : Mengenal Panglima Wangkang Bagian 1, Putra Pambakal Kendet yang Tumbuh di Tengah Tekanan Belanda
Peristiwa tersebut menjadi salah satu pemicu Wangkang untuk mempersiapkan perlawanan. Ia kemudian menghimpun keluarga dari Amuntai serta sejumlah pemberontak yang masih tersebar di kawasan Sungai Palokan.
Wangkang selanjutnya mengikuti Surapati mundur ke wilayah hulu, menuju Amuntai dan kemudian Tabalong. Di sana, Surapati mengangkat Wangkang sebagai pemimpin laskar yang berjumlah sekitar 50 orang dan memberinya gelar Kiai Mas Demang.
Kekuatan tersebut kemudian ikut bergabung bersama Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati dalam mempertahankan Benteng Lahei ketika diserang Belanda.
Setelah Benteng Lahei jatuh, Wangkang mengikuti Pangeran Antasari menuju Amuntai untuk mengampanyekan perlawanan terhadap Belanda.
Pasukannya turut menyerang sejumlah benteng Belanda di Barabai, Hampukong dan Tabalong. Perlawanan kemudian berlanjut ke kawasan Gunung Tongka, termasuk membantu mendirikan benteng di wilayah tersebut.
Mansyur menyebut, catatan sejarah Kalimantan Tengah juga mencatat adanya peperangan di Puruk Cahu yang dipimpin Tumenggung Wangkang.
“Dengan tegas pula disebutkan dalam buku ‘Sejarah Daerah Kalimantan Tengah’ bahwa telah terjadi perang sekitar tahun 1860-an di Puruk Cahu dipimpin oleh Tumenggung Wangkang sehingga perang ini disebut Perang Wangkang,” tuturnya.
Menurutnya, perlawanan yang dipimpin Wangkang menjadi salah satu perang besar masyarakat Dayak terhadap Belanda dalam periode tersebut.
“Tidak pernah terjadi peperangan besar oleh orang Dayak selama kurang lebih 60 tahun orang Dayak berjuang melawan Belanda selain peperangan yang dipimpin oleh Wangkang,” kata Mansyur.
Perjalanan Wangkang dalam menghadapi Belanda tidak hanya mengandalkan kekuatan pasukan. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Wangkang disebut pernah bertapa selama satu tahun untuk memperoleh kekuatan.
“Menurut cerita orang tua, beliau sempat selama satu tahun bertapa untuk memperoleh ilmu kekuatan berupa kekebalan dari berbagai senjata terkecuali senjata dari emas,” ujar Mansyur.
Keberanian Wangkang yang dikenal berani mengambil risiko membuat namanya semakin disegani dalam perang gerilya di wilayah Bakumpai dan Tanah Dusun.
“Keberaniannya yang kadang-kadang cenderung nekat membuat Wangkang menjadi salah seorang Panglima yang paling terkenal dan ditakuti selama perang gerilya di daerah Bakumpai dan Tanah Dusun,” katanya.
Dalam perjalanannya, Wangkang memiliki hubungan erat dengan keluarga Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati. Kedekatan tersebut membuatnya dipercaya menjadi salah satu ujung tombak perjuangan kedua tokoh tersebut.
Bahkan setelah Pangeran Antasari wafat pada 1862, Wangkang masih menerima perintah dari dua putranya, yakni Panembahan Muhammad Said dan Sultan Muhammad Seman.
Ia juga memiliki hubungan dekat dengan putra-putra Tumenggung Surapati, yakni Tumenggung Ajidan dan Tumenggung Kornel.
“Sejak itulah beliau menjadi panglima perlawanan dan beliau yang kita kenal sekarang sebagai Panglima Wangkang,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi






