BANJARMASIN, klikkalsel.com – Tangis sejumlah korban selamat KM Virgo Transport 8 pecah di depan Posko Basarnas Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Selasa (15/9/2026).
Mereka merupakan bagian dari 25 warga asal Jawa Barat yang berhasil dievakuasi setelah KM Virgo Transport 8 terbalik di perairan Laut Jawa.
Setelah berhasil lolos dari maut, para korban kini harus menghadapi persoalan lain. Sebagian dari mereka kehilangan dokumen identitas hingga bekal untuk melanjutkan perjalanan pulang ke kampung halaman.
Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM menghubungi para korban melalui panggilan video.
Sejumlah korban berkumpul di depan Posko Basarnas Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Melalui sambungan video tersebut, KDM menanyakan langsung kondisi mereka sekaligus kendala yang dihadapi selama berada di Banjarmasin.
“Kendalanya apa aja? Gak ada bekal ya? Nanti kalau saya kirim uang bisa pulang kan?” tanya KDM melalui sambungan video.
KDM kemudian menyampaikan komitmennya untuk membantu kebutuhan para korban. Ia akan memberikan bantuan sebesar Rp6 juta kepada masing-masing warga Jawa Barat yang selamat dari musibah tersebut.
“Nanti per orang saya kirim uang Rp6 juta ya. Untuk makan selama di sana, pulangnya naik pesawat, jangan naik kapal lagi,” ucapnya.
Ucapan KDM sontak membuat suasana di depan Posko Basarnas berubah haru.
Sejumlah korban yang sejak awal menyimak percakapan melalui layar telepon genggam tak mampu menahan tangis.
Mereka juga langsung menyampaikan terima kasih kepada KDM yang telah memberikan perhatian dan bantuan.
Bagi para korban, bantuan tersebut menjadi bekal penting untuk memenuhi kebutuhan selama masih berada di Banjarmasin sekaligus membantu proses kepulangan mereka ke Jawa Barat.
Baca Juga : RBB Lanal Banjarmasin Bawa 22 Korban Selamat KM Virgo ke Trisakti Secara Bertahap
Baca Juga : Hari Ketiga SAR KM Virgo Transport 8: 114 Korban Dievakuasi, 6 Meninggal, 129 Masih Dicari
Kepada wartawan melalui sambungan video yang sama, KDM menjelaskan bantuan tersebut disiapkan agar para korban tidak kesulitan memenuhi kebutuhan selama berada di Banjarmasin.
“Untuk pesawat pulang saya siapin bekal, agar selama di sana mereka tidak kelaparan. Uangnya Rp6 juta, Rp1 juta beli baju, sisanya buat bekal di sana. Kalau nyisa sampai rumah, buat keluarga di rumah,” katanya.
KDM juga meminta para korban tidak kembali menggunakan kapal laut saat perjalanan pulang dan memilih pesawat sebagai moda transportasi.
Tetua Paguyuban Sunda di Kalimantan Selatan, Mamah Kakarabijil, mengatakan terdapat 25 warga Jawa Barat yang berhasil dievakuasi dari KM Virgo Transport 8.
Mereka berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat, seperti Garut, Cianjur, Bandung dan Bogor. Dari sejumlah daerah tersebut, warga asal Garut menjadi kelompok terbanyak.
“Kalau totalnya 25 orang Sunda di sini. Sebagian ada yang di hotel, ada yang di rumah sakit. Ini banyak, ada yang dari Garut, Cianjur, Bandung, Bogor juga. Yang banyak dari Garut,” tuturnya.
Dari 25 warga tersebut, sebagian besar merupakan pekerja yang berada di kapal. Sebanyak 23 orang diketahui merupakan kru yang bekerja pada bagian katering KM Virgo Transport 8, sedangkan dua lainnya merupakan penumpang.
“Ini mereka pekerja katering di dalam kapal. Ada dua penumpang juga. Jadi 23 orang kru, dua orang penumpang,” ujarnya.
Kondisi para korban pun masih beragam. Sebagian menjalani perawatan di rumah sakit, sementara lainnya berada di hotel maupun tempat penampungan.
Melihat kondisi para korban, Paguyuban Sunda di Kalimantan Selatan turut mengambil peran membantu kebutuhan mereka selama berada di Banjarmasin.
Selain membantu kebutuhan sehari-hari, paguyuban juga ikut mencarikan solusi terkait dokumen identitas para korban yang hilang dalam musibah tersebut.
“Saya perwakilan dari Lembur Kuring orang Sunda Jawa Barat. Mendengar berita ini, saya sebagai sesepuh dan ibu orang Sunda di Kalsel,” bebernya.
Menurut Mamah Kakarabijil, persoalan dokumen identitas menjadi salah satu hal yang perlu segera dikoordinasikan agar tidak menghambat proses kepulangan para korban.
“Untuk identitas dirundingkan. Kebetulan kita di Kalsel ada Paguyuban Sunda,” tandasnya.(fachrul)
Editor: Amran






