BANJARMASIN, klikkalsel.com – Masalah truk bermuatan berlebih atau over dimension over loading (Odol) yang masih bebas melintas di Banjarmasin, kembali menjadi sorotan.
Menurut Pengamat Tata Kota, Akbar Rahman, lemahnya penegakan regulasi transportasi menjadi akar persoalan yang berdampak langsung pada keselamatan pengguna jalan dan kerusakan infrastruktur kota.
“Truk-truk ODOL ini seharusnya dicegat melalui sistem timbang otomatis atau weigh-in-motion di titik-titik strategis seperti pelabuhan dan kawasan pergudangan,” jelas Akbar, Rabu (23/4/2025).
Ia juga menekankan pentingnya sanksi progresif untuk pelanggar berulang serta pengawasan berbasis data insiden lalu lintas oleh Dishub dan Satlantas.
Akbar juga menambahkan bahwa kecelakaan yang kerap terjadi di titik-titik seperti Jembatan Pekauman, Merdeka, dan Kayu Tangi bukan hanya karena desain jalan yang kurang ideal, tapi juga kombinasi dari beberapa faktor lain.
Baca Juga Bupati Batola Tinjau Jalan Rusak dan Siap Genjot Perbaikan Infrastruktur Demi Warga
“Tikungan tajam setelah turunan jembatan dengan kemiringan curam dan radius kurang dari standar sangat berbahaya, apalagi jika truk mengalami rem blong,” terangnya.
Ia menyarankan adanya audit keselamatan jalan secara berkala untuk menyesuaikan desain dengan kondisi nyata di lapangan.
Selain masalah desain, Akbar menyoroti peran Dishub Kota yang belum optimal. Menurutnya, Dishub seharusnya rutin melakukan inspeksi kendaraan berat, menerapkan kebijakan jam larangan truk (window time policy), serta berkoordinasi dengan Satlantas dan pemerintah provinsi untuk pengawasan di jalan-jalan antar kota.
“Jika fungsi-fungsi ini tidak berjalan, maka jelas terlihat kelemahan manajemen kelembagaan transportasi kita. Regulasi tanpa pengawasan yang kuat hanya menjadi ‘macan kertas’,” tegasnya.
Terkait efektivitas lampu lalu lintas di Jembatan Pekauman, Akbar menyebut bahwa sistem saat ini belum responsif terhadap karakteristik jalan dan perilaku kendaraan berat.
Ia menyarankan penggunaan sistem sinyal adaptif berbasis Artificial Intelligence atau minimal ATCS (Area Traffic Control System) untuk mengatur lalu lintas lebih dinamis dan aman.
“Sebagai solusi, menurut saya harus ada revisi desain geometri jembatan dan turunan berdasarkan hasil audit keselamatan jalan,” ungkapnya.
“Pengendalian ketat muatan truk dengan pos timbang atau sensor jalan. Penegakan hukum terpadu oleh Dishub, Satlantas, dan pemilik truk,” tambahnya
Ia juga mengharapkan adanya implementasi SOP di zona rawan kecelakaan seperti Jembatan Pekauman, termasuk pemasangan rambu kecepatan, escape lane, rumble strip, dan kamera pemantau.
“Keselamatan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal komitmen bersama untuk menegakkan aturan,” pungkasnya.(fachrul)
Editor : Amran





