MARTAPURA, klikkalsel.com – Kondisi memprihatinkan dialami ratusan warga terdampak banjir di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Meski berada di posko pengungsian resmi milik pemerintah, para korban banjir justru mengeluhkan minimnya bantuan makanan hingga mulai terserang berbagai penyakit.
Sudah sepekan terakhir, para pengungsi harus bertahan di tengah keterbatasan. Distribusi logistik yang tidak menentu membuat warga seringkali hanya makan satu kali dalam sehari. Bahkan, beberapa warga terpaksa menyisakan nasi bungkus pemberian pagi hari untuk dimakan kembali pada sore hari demi mengganjal perut yang lapar.
Salah seorang pengungsi, Sutamah, menceritakan betapa sulitnya bertahan hidup di pengungsian. Menurutnya, bantuan nasi bungkus seringkali tidak mencukupi jumlah pengungsi yang ada, sehingga mereka harus saling berbagi meski porsinya sangat sedikit.
“Kondisinya sangat susah di sini. Kami pernah seharian tidak dapat makan sama sekali dan terpaksa menahan lapar sampai bantuan nasi bungkus datang. Kalaupun ada nasi, kadang harus dibagi-bagi dengan pengungsi lain karena tidak cukup. Kami hanya bisa pasrah,” ucapnya lirih.
Baca Juga : Kunjungan Wapres Gibran ke Lokasi Banjir Kalsel Dicegat Mahasiswa, Suarakan Masalah Tambang Ilegal
Baca juga : Isak Tangis Warga Pecah Saat Wapres Gibran Tinjau Banjir di Kabupaten Banjar
Selain masalah pangan, kondisi kesehatan para pengungsi mulai menurun. Di tengah udara dingin dan fasilitas yang terbatas, banyak warga—terutama lansia dan anak-anak—mulai mengeluhkan gejala demam, pusing, dan gatal-gatal.
Bencana banjir yang telah merendam wilayah Sungai Tabuk dengan ketinggian air mencapai lebih dari satu meter ini juga melumpuhkan total aktivitas ekonomi warga. Selama dua pekan terakhir, warga tidak dapat bekerja karena ladang dan akses jalan terputus total.
“Kami sudah dua minggu lebih tidak bisa bekerja. Mau cari uang buat beli makan sendiri pun tidak bisa karena jalannya terendam satu meter lebih. Sekarang kami cuma bisa berharap bantuan pemerintah datang teratur,” ujarnya.
Hingga saat ini, warga masih bertahan di posko-posko pengungsian sambil berharap adanya bantuan medis yang lebih intensif serta jaminan distribusi makanan tiga kali sehari dari pemerintah daerah setempat. (Mada)
Editor: Abadi





