Menyusuri Jejak Perjuangan Haji Boejasin dalam Perang Banjar 1859-1906 (Bagian 2)

Lukisan Hadji Boeyasin menurut versi Anggraini Antemas. Sumber: Antemas, 2004 (Mansyur)

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Nama Hadji Boeijasin tercatat sebagai salah satu pemimpin perlawanan paling berani di Kalimantan Selatan pada pertengahan abad ke-19.

Berbasis di Tanah Laut, ia memimpin pasukan rakyat yang terorganisasi dan dikenal dengan taktik gerilya yang efektif serta keberanian luar biasa karena selalu berada di garis depan pertempuran.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menjelaskan, keistimewaan Hadji Boeijasin bukan hanya pada strategi, melainkan teladan kepemimpinan. Singa Tanah Laut yang Mengguncang Kolonial Belanda.

“Dalam setiap pertempuran melawan Pemerintah Kolonial Belanda, ia tidak membiarkan pasukannya maju sendiri. Ia justru memimpin serangan paling depan, menguatkan mental juang pengikutnya,” kata Mansyur, Sabtu (21/2/2026).

Keberanian itu tampak saat ia menyusup ke markas Belanda di Martapura. Aksi mendadak tersebut membuat pasukan kolonial kocar-kacir, sebelum Hadji Boeijasin berhasil lolos dari kepungan.

“Jejak pertempurannya kemudian meluas ke Cempaka, Sungai Paring, Gunung Landak, hingga Tabanio,” ujarnya.

Benteng Telaga yang terletak di antara Sabuhur dan Batu Tungku menjadi simbol kecerdikan militernya. Pada 27 Juli 1859, benteng ini dikepung pasukan Belanda dalam jumlah besar. Namun, jebakan yang dipasang di sekeliling benteng justru menelan banyak korban dari pihak penyerang.

Baca Juga : Menyusuri Jejak Perjuangan Haji Boejasin dalam Perang Banjar 1859-1906 (Bagian 1)

Baca Juga : Sejarah Rumah Banjar Museum Wasaka, Monumen Cinta Juragan Intan Untuk Sang Anak

“Telaga adalah contoh perang rakyat yang cerdas. Musuh terperangkap sebelum sempat menguasai medan,” ungkap Mansyur.

Perlawanan Hadji Boeijasin juga menghadapi tantangan dari pasukan pribumi yang memihak Belanda. Salah satunya dipimpin tokoh bernama Bahot dengan sekitar 40 pengikut, yang ditugaskan untuk menaklukkan Tanah Laut dan menghancurkan basis Telaga. Meski demikian, perlawanan tetap berlanjut.

Puncak heroisme lain terjadi pada Agustus 1859 dalam peristiwa Benteng Tabanio. Bersama Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana, Hadji Boeijasin berhasil merebut benteng yang diduduki Belanda.

“Serangan balasan kolonial dengan bantuan kapal perang pun gagal menembus pertahanan rakyat,” jelasnya.

Namun, situasi berubah pada Desember 1859. Benteng Hadji Boeijasin di Takisung diserang besar-besaran hingga hancur. Ia kemudian menyingkir ke Pelaihari dan bergerak hingga Bati-Bati.

Menurut Mansyur, kisah Hadji Boeijasin menegaskan bahwa perlawanan lokal memiliki dampak strategis dalam sejarah anti-kolonial di Kalimantan Selatan.

“Ia bukan sekadar pejuang bersenjata, tetapi simbol keberanian, kepemimpinan, dan perlawanan rakyat yang patut dikenang,” tutupnya. (airlangga)

Editor: Abadi