Mengenang KH Ahmad Zuhdiannor, Ulama Kharismatik Kalsel

Kh Zuhdiannor atau Guru Zuhdi (Abah Haji). sumber foto : internet

BANJARMASIN,klikkalsel.com– KH Ahmad Zuhdiannor atau yang dikenal dengan sebutan Guru Zuhdi merupakan salah satu ulama kharismatik dan berpengaruh di Kalimantan Selatan. Tahun ini merupakan Haul yang ke-6 untuk sosok yang akrab disapa Abah Haji ini.

Beliau dikenal luas melalui majelis-majelis taklim yang dipimpinnya serta kiprahnya di berbagai bidang sosial dan keagamaan.

Mengutip dari Wikipedia, KH Ahmad Zuhdiannor lahir pada 10 Februari 1972 dari pasangan KH Muhammad bin Haji Jafri Al-Banjari dan Hj. Zahidah binti Tuan Guru Asli Al-Banjari.

Ia tumbuh di lingkungan keluarga ulama. Ayahnya merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, sedangkan kakeknya dari pihak ibu, Tuan Guru Asli, adalah ulama asal Alabio, Hulu Sungai Utara (HSU).

Pendidikan formalnya ditempuh hingga tingkat Sekolah Dasar. Setelah itu, ia memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru di bawah bimbingan ayahnya pada periode 1986–1993.

Karena kondisi kesehatan yang kerap terganggu, Beliau kemudian melanjutkan pendalaman ilmu kepada kakeknya di Alabio. Di sana ia mempelajari tajwid, fikih, tasrif, tauhid, dan tasawuf.

Masih berdasarkan Wikipedia, setelah kakeknya wafat, Guru Zuhdi melanjutkan belajar kepada KH Abdus Syukur bin Jamaluddin atau Muallim Syukur di Teluk Tiram, Banjarmasin.

Beliau juga tercatat pernah belajar kepada ulama kharismatik KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani.

Baca Juga : Warga Seberang Masjid Sediakan Penyeberangan Gratis untuk Jemaah Haul ke-6 Guru Zuhdi

Baca Juga :Panitia Haul ke-6 Guru Zuhdi Siapkan 1.500 Porsi Konsumsi

Dalam perjalanan dakwahnya, Guru Zuhdi dikenal aktif mengisi pengajian di berbagai tempat, di antaranya Masjid Jami Banjarmasin, Langgar Darul Iman Teluk Dalam (Majelis Pondok Indah), Masjid Ar-Raudhah Sungai Andai, Kota Citra Grha Banjarbaru, hingga Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Kitab-kitab yang diajarkannya antara lain Ihya’ Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali, Syarah Hikam Ibnu Athaillah, Syarh Nasha’ih al-Diniyyah dan Hidayah as-Salikin.

Wikipedia juga mencatat, Guru Zuhdi dikenal konsisten dalam dakwahnya dan tidak terlibat dalam politik praktis. Selain sebagai ulama, ia menjabat sebagai Mustasyar PWNU Kalimantan Selatan periode 2018–2023 dan menjadi Dewan Penasihat klub sepak bola Barito Putera.

Ia juga aktif dalam kegiatan pemadam kebakaran di Banjarmasin dan memimpin salah satu organisasi barisan pemadam kebakaran.

KH Ahmad Zuhdiannor wafat pada 2 Mei 2020 atau bertepatan 9 Ramadan 1441 Hijriah dalam usia 48 tahun, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Beliau didiagnosis menderita kanker paru dengan diagnosis banding kanker kelenjar getah bening. Hasil tes cepat dan PCR Covid-19 yang dijalaninya dinyatakan negatif.

Kabar wafatnya disambut duka mendalam oleh jemaah dan masyarakat. Jenazahnya diterbangkan ke Banjarmasin dan dimakamkan di samping kediamannya di belakang Masjid Jami Banjarmasin, diiringi ribuan warga yang melantunkan zikir dan selawat. (airlangga)

Editor: Abadi