BANJARMASIN, klikkalsel.com – Sosok almarhum KH Ahmad Zuhdiannor atau yang akrab disapa Guru Zuhdi bukan hanya dikenal sebagai ulama kharismatik di Kalimantan Selatan (Kalsel). Guru Zuhdi juga memiliki kedekatan emosional dengan klub kebanggaan Banua, Barito Putera.
Di balik keseharian beliau sebagai pendakwah, tersimpan kisah kedekatan yang hangat dengan Barito Putera yang berjuluk Laskar Antasari.
Bagi masyarakat Kalsel, Barito Putera bukan sekadar klub sepak bola, tapi adalah simbol kebanggaan daerah. Di antara perjalanan panjang klub tersebut, ada peran doa dan nasihat seorang ulama yang menjadi panutan.
Semasa hidupnya, Guru Zuhdi beberapa kali menerima kunjungan manajemen, pemain, hingga official Barito Putera sebagai dewan penasehat klub. Silaturahmi itu berlangsung sederhana namun penuh makna.
Tidak ada protokoler berlebihan, hanya pertemuan yang diisi dengan doa, nasihat, dan harapan agar tim kebanggaan Banua itu selalu diberi kekuatan dan keselamatan.
Dalam berbagai kesempatan, Guru Zuhdi mengingatkan pentingnya menjaga niat dan akhlak dalam setiap pertandingan.
Menurut beliau, kemenangan sejati bukan hanya soal skor di papan hasil, tetapi bagaimana para pemain menjaga sportivitas, kekompakan, dan nama baik daerah.
“Main bola itu bukan hanya soal fisik, tapi juga hati,” begitu pesan yang kerap disampaikan kepada para pemain, sebagaimana dikenang oleh Owner Barito Putera Hasnuryadi Sulaiman.
Ia juga berpesan kepada para pemain untuk selalu rendah hati dan tidak sombong serta perbanyak untuk bersyukur.
Baca Juga : Persiapan Haul ke-6 Guru Zuhdi Sudah 90 Persen
Baca Juga : Barito Putera Tutup Bursa Transfer dengan Roni Sugeng, Lini Tengah Kian Solid
Menurutnya, doa dari Guru Zuhdi menjadi suntikan semangat tersendiri. Terlebih saat Barito Putera menghadapi masa-masa sulit di kompetisi.
Tekanan suporter, ketatnya persaingan, hingga ancaman degradasi kerap menjadi ujian mental. Di situlah nilai-nilai religius menjadi penguat.
Kedekatan ini juga mencerminkan karakter masyarakat Banua yang religius. Sepak bola dan nilai keagamaan berjalan beriringan.
Barito Putera tumbuh dari dukungan moral masyarakat dan para ulama menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan klub.
Bahkan bagi suporter, sosok Guru Zuhdi bukan hanya ulama, tetapi figur yang mendoakan kebanggaan mereka. Ada kebanggaan tersendiri ketika Laskar Antasari mendapat doa dari tokoh yang begitu dihormati.
Setelah wafatnya Guru Zuhdi, kenangan itu tetap hidup. Setiap kali Barito Putera bertanding, tak sedikit yang mengenang doa-doa beliau. Spirit yang ditanamkan tentang pentingnya akhlak, persaudaraan, dan kebersamaan masih terasa relevan hingga kini.
Kedekatan antara Guru Zuhdi dengan Hasnuryadi Sulaiman dan Barito Putera menjadi bukti bahwa sepak bola lebih dari sekadar olahraga. Tapi adalah ruang kebersamaan, identitas daerah, dan bahkan ladang nilai-nilai moral.
Dan hingga kini, banyak yang percaya, jejak doa itu masih mengiringi setiap langkah Barito Putera di kancah sepak bola nasional dan sepak bola sebagai alat pemersatu.(restu)
Editor: Amran





