Banjar  

Membelah Banjir Demi Sesuap Nasi

MARTAPURA, klikkalsel.com – Setiap pagi, Amat (55) harus memulai harinya dengan perjuangan. Warga Desa Gudang Hirang (Sungai Madang) RT 8 itu terpaksa berjalan kaki ratusan meter menembus genangan air setinggi lutut orang dewasa, hanya untuk mengambil sepeda motornya yang diparkir di tempat lebih tinggi (Jalan Martapura Lama).

Dari sanalah ia melanjutkan perjalanan ke Kota Banjarmasin, tempat ia menggantungkan hidup sebagai tukang bangunan.

Kondisi itu telah dijalaninya setiap hari sejak akhir Desember 2025 lalu, setelah kawasan tempat tinggalnya direndam banjir luapan Sungai Martapura yang tak kunjung surut.

Tak hanya akses keluar rumah yang terendam, rumah Amat pun ikut dikepung air dengan ketinggian di atas mata kaki orang dewasa. Demi bisa beristirahat, ia terpaksa membangun panggung seadanya di dalam rumah sebagai tempat tidur.

Meski kondisi serba sulit, Amat memilih bertahan dan tidak mengungsi. Alasannya sederhana, menjaga rumah dan beberapa karung padi hasil panen yang belum sempat digiling menjadi beras.

“Benih (padi) itu saya taruh di atas, kalau terendam habis semua,” ujarnya lirih, Rabu (7/1/2026) sore.

Nasib serupa juga dialami Putri (26), warga Sungai Madang lainnya. Rumahnya ikut terendam banjir sejak lebih dari dua pekan terakhir. Setiap hari, ia harus menggunakan perahu kecil untuk keluar dari rumah menuju jalan utama, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor.

Baca Juga : Kehadiran Sandi Fitrian Noor di Tengah Banjir Sungai Tabuk Kuatkan Warga

Baca Juga : Terobos Banjir 3 Kilometer, Wagub Kalsel Jalan Kaki Antar Bantuan ke Warga Sungai Madang

Putri terpaksa berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Ia bekerja di kawasan Jalan A Yani Kilometer 6, Banjarmasin, dan tambahan waktu tempuh tak bisa dihindari akibat banjir yang menutup hampir seluruh akses lingkungan.

“Kalau telat, bisa tidak masuk kerja,” katanya.

Banjir yang berkepanjangan mulai meninggalkan dampak serius pada bangunan rumah warga. Dinding rumah Putri yang terbuat dari kalsibot rata-rata rusak akibat terendam air terlalu lama. Papan lantai pun mulai lepas satu per satu.

Lebih memprihatinkan, aktivitas dasar seperti buang air besar tak lagi bisa dilakukan di rumah. Warga terpaksa mencari tempat lain yang dianggap lebih aman dan layak.

Kondisi warga yang berada di bantaran Sungai Martapura disebut jauh lebih parah. Air menggenangi permukiman hampir tanpa jeda, memutus akses, merusak rumah, dan melumpuhkan aktivitas sehari-hari. Sebagian warga memilih bertahan demi menjaga harta benda, sementara yang lain tak punya pilihan selain mengungsi.

Hingga kini, warga berharap air segera surut dan ada perhatian serius dari pemerintah, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan rawan banjir di sepanjang aliran Sungai Martapura. (airlangga)

Editor: Abadi