BANJARMASIN, klikkalsel.com – Bagi masyarakat Bakumpai di Kalimantan Selatan, sakit atau (haban) bukan sekadar gangguan fisik yang dapat diukur secara medis. Lebih dari itu, haban dimaknai sebagai fenomena menyeluruh yang melibatkan tubuh, lingkungan, hingga relasi manusia dengan dunia tak kasatmata.
Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah menjelaskan, dalam pandangan orang Bakumpai, haban memiliki tingkatan dan makna yang khas.
“Haban dipahami sebagai kondisi tidak sehat yang dirasakan oleh tubuh secara umum, tetapi tingkatannya berbeda-beda, mulai dari yang ringan hingga kritis,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).
Dalam tradisi Bakumpai, sakit ringan dikenal sebagai (haban budas) atau haban biasa, seperti sakit kepala, demam, atau kelelahan. Tingkatan berikutnya disebut (haban kakate beh), yakni penyakit yang kerap dialami seseorang dan dianggap sudah menjadi langganan, seperti sakit maag.
Namun, jika kondisinya memburuk dan mengancam keselamatan jiwa, maka disebut (haban hawas), yaitu sakit berat yang menimbulkan kekhawatiran besar bagi keluarga.
Selain haban, masyarakat Bakumpai juga mengenal istilah (kapahe) yang merujuk pada rasa sakit di bagian tubuh tertentu. Misalnya, sakit kepala disebut (ngalu takuluk). Meski setiap orang yang haban pasti merasakan kapahe, tidak semua kapahe berarti seseorang mengalami haban secara menyeluruh.
Nasrullah menuturkan, penyebab haban tidak selalu dimaknai secara fisik. Selain faktor kelelahan, cuaca, atau pekerjaan berat, orang Bakumpai juga meyakini adanya penyebab non-medis, seperti gangguan makhluk halus penunggu tempat tertentu (baganan) atau benda pusaka leluhur.
“Ketika seseorang sakit berkepanjangan atau tiba-tiba jatuh (haban hawas), keluarga biasanya mulai menelusuri kemungkinan adanya gangguan dari dunia lain,” jelasnya.
Baca Juga : Bulan Ramadan dan Momentum Jihad dalam Sejarah Perjuangan Banjar
Baca Juga : Ritual Badewa, Pengobatan Tradisional Suku Dayak Bakumpai
Dalam praktiknya, upaya penyembuhan selalu diawali dengan pengobatan medis, seperti berobat ke dokter atau membeli obat. Namun, jika sakit tak kunjung sembuh, masyarakat Bakumpai akan melengkapi ikhtiar tersebut dengan pengobatan tradisional yang disebut tawar atau menawar.
Beragam jenis (tawar) cara pengobatan dikenal dalam budaya Bakumpai. Di antaranya Tawar Sadengen untuk menurunkan panas tubuh, Tawar Balasu untuk sakit demam, serta Tawar Palasit dan kasarungan yang dilakukan pada orang yang mengalami kesurupan atau kemasukan makhluk halus.
Ada pula Tawar Pajaliau yang diyakini dapat menyembuhkan sakit kepala hebat akibat sentuhan makhluk gaib.
“Pengobatan tradisional ini bukan hanya soal menyembuhkan tubuh, tetapi mengembalikan keharmonisan antara manusia dan makhluk lain di sekitarnya,” kata Nasrullah, yang juga dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP ULM.
Dalam kasus tertentu, proses penyembuhan bahkan dilengkapi dengan upacara batatenga, yakni pemberian sesaji sebagai bentuk permohonan maaf dan penyeimbang hubungan dengan makhluk halus.
Namun, ketika tawar dilakukan oleh tokoh agama atau (uluh alim), maknanya menjadi lebih dalam sebagai bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Menurut Nasrullah, cara pandang ini menunjukkan bahwa masyarakat Bakumpai memiliki konsep kesehatan yang holistik.
“Sakit tidak hanya dilihat dari aspek biologis, tetapi juga sosial, budaya, dan spiritual. Inilah kearifan lokal yang masih bertahan dan hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi





