BANJARMASIN, klikkalsel.com – Di tengah meluasnya banjir yang melanda Kabupaten Banjar, Anggota DPRD Kalsel dari Fraksi Partai Demokrat Gusti Abidinsyah, meminta pemerintah daerah bergerak cepat menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak, khususnya yang berada di wilayah pelosok.
Menurutnya, keterlambatan distribusi bantuan hanya akan menambah penderitaan masyarakat yang saat ini hidup dalam keterbatasan akibat genangan air yang belum surut.
“Bantuan untuk korban banjir di Banjar, terutama di daerah pelosok yang jauh dari perkotaan, harus segera disalurkan. Jangan ditahan-tahan,” ujar Gusti Abidinsyah.
Ia menekankan, kebutuhan pokok seperti sembako menjadi hal paling mendesak untuk segera dipenuhi. Banyak warga, terutama di daerah terpencil, kesulitan memenuhi kebutuhan harian karena akses distribusi terputus akibat banjir.
Tak hanya soal logistik, Gusti Abidinsyah juga mengingatkan, pemerintah agar waspada terhadap ancaman masalah kesehatan pascabanjir. Lingkungan yang tergenang dalam waktu lama berpotensi memicu munculnya berbagai penyakit, terutama bagi anak-anak dan lansia.
“Kesehatan warga juga harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai setelah banjir, muncul persoalan baru berupa penyakit menular,” katanya, Selasa (6/1/2026)
Baca Juga : Warga Terdampak Banjir di Desa Gudang Tengah Senang Dikunjungi Wagub Kalsel dan Pemain Barito Putera
Baca Juga : Klikkalsel.com Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Keramat Sungai Tabuk
Ia pun menyinggung soal manajemen penyaluran bantuan yang dinilai belum maksimal. Menurutnya, bantuan yang bersumber dari anggaran tahun 2025 seharusnya sudah disalurkan sepenuhnya pada Desember lalu.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Banjar masih terus meluas hingga awal Januari 2026. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mencatat, sebanyak 115 desa di tujuh kecamatan terdampak banjir.
Tak kurang dari 22.803 rumah terendam, dengan 11.611 di antaranya terendam total. Kondisi ini memaksa 4.662 warga mengungsi ke posko darurat maupun ke rumah kerabat yang berada di lokasi lebih tinggi.
Salah satu wilayah terparah berada di sepanjang bantaran Sungai Martapura. Di Desa Pekauman Ulu, Kecamatan Martapura Timur, sekitar 85 persen permukiman terendam banjir. Air di jalan desa mencapai 80 sentimeter, sementara di dalam rumah warga tingginya setara paha orang dewasa.
“Sekarang sudah masuk tahun anggaran 2026, tentu ada anggaran baru. Maka fokus pemerintah daerah saat ini harus benar-benar membantu korban banjir, terutama untuk kebutuhan pangan,” tegasnya. (azka)
Editor : Akhmad





