BARABAI, klikkalsel.com – Kabut asap pekat menyelimuti Kota Barabai dan sejumlah kawasan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), dengan jarak pandang di beberapa titik diperkirakan hanya 50 meter, kondisi ini membuat kualitas udara masuk kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut terpantau pada Minggu (11/10/2026) malam, ketika kabut asap semakin tebal di pusat kota hingga kawasan perkampungan. Situasi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Data IQAir pada pukul 20.00 menunjukkan indeks kualitas udara (AQI+) Barabai mencapai 156, masuk kategori tidak sehat. Sementara itu, konsentrasi polutan utama PM2.5 tercatat sebesar 62,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan polusi udara. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan berdampak terhadap kesehatan.
Pantauan media ini di Lapangan Dwi Warna, yang berada di jantung Kota Barabai, memperlihatkan kabut asap menutupi kawasan tersebut. Pandangan ke seberang lapangan tampak samar akibat pekatnya asap yang menyelimuti lingkungan sekitar.
Kondisi serupa juga terlihat di kawasan permukiman yang menghubungkan Desa Pajukungan menuju Desa Banua Asam. Di jalur tersebut, kabut asap dilaporkan sangat tebal dengan jarak pandang diperkirakan tidak lebih dari 50 meter pada sejumlah titik.
Emilda, warga Desa Banua Binjai, mengungkapkan kabut asap pada Minggu malam terasa lebih pekat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kondisi tersebut membuat warga semakin berharap agar kualitas udara segera membaik.
“Menurut saya, kabut asap malam ini paling pekat dibandingkan hari-hari kemarin,” kata Emilda kepada media ini di Barabai, Minggu malam.
Menurutnya, hujan menjadi salah satu hal yang paling diharapkan masyarakat untuk membantu mengurangi kabut asap yang menyelimuti wilayah HST. Warga berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan kembali mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ketebalan asap juga menjadi perhatian bagi pengendara yang melintasi jalan perkotaan maupun kawasan perdesaan. Jarak pandang yang terbatas dapat menyulitkan pengemudi mengenali kendaraan lain, pejalan kaki, serta kondisi jalan di depan mereka.
Baca Juga : Sampah Capai 130 Ton Sehari, DLH HST Akui Armada Pengangkut Masih Terbatas
Baca Juga : Padamkan Karhutla, BPBD Bahas Kemungkinan Bantuan Operasional BPK Swasta
Pengendara disarankan mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menyalakan lampu kendaraan, dan menghindari manuver mendadak. Apabila jarak pandang terlalu terbatas, mencari tempat berhenti yang aman dapat menjadi pilihan untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Selain mengganggu perjalanan, paparan PM2.5 berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung. Gejala seperti batuk, iritasi tenggorokan, dan sesak napas perlu diwaspadai.
IQAir juga menampilkan suhu udara sekitar 27 derajat Celsius, kecepatan angin 2 kilometer per jam, dan kelembapan 62 persen pada tampilan data tersebut. Kecepatan angin yang rendah dapat memengaruhi penyebaran polutan, tetapi data itu saja tidak cukup untuk memastikan penyebab maupun durasi kabut asap.
Perlu dicatat, IQAir menyebut data kualitas udara Barabai tersebut berasal dari model berbasis satelit. Dengan demikian, angka AQI+ dan konsentrasi PM2.5 merupakan estimasi yang perlu dibedakan dari hasil pengukuran langsung menggunakan alat pemantau di permukaan.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau membatasi aktivitas fisik di luar ruangan ketika kabut asap menebal. Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, menjaga udara dalam ruangan tetap bersih, serta mengurangi masuknya asap ke rumah dapat membantu menekan paparan polusi.
Hingga Minggu malam, kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan Barabai dan sekitarnya berdasarkan pantauan yang disampaikan. Warga berharap hujan segera turun dan kualitas udara berangsur pulih, sementara pemantauan lanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi udara di wilayah HST.(raram)
Editor: Amran







