BANJARMASIN, klikkalsel.com – Jelang Tahun Baru Imlek 2577, Kelenteng Karta Rahardja di Jalan Niaga Timur, Banjarmasin mulai dikunjungi umat untuk bersembahyang, Rabu (11/2/2026).
Aroma dupa langsung menyergap begitu kaki melangkah ke ruang utama. Asap tipis mengepul di antara deretan lilin merah raksasa yang menyala tanpa henti,
Satu per satu umat datang. Mereka menundukkan kepala, menyalakan dupa, lalu terdiam dalam doa. Suasana terasa khusyuk di kelenteng yang telah berdiri lebih dari seabad tersebut. Menjelang pergantian tahun, tempat ibadah ini menjadi pusat pengharapan dan refleksi.
Ketua Pembina Kelenteng Karta Rahardja, Leo Sugianto, mengatakan momen tujuh hari sebelum Tahun Baru Imlek menjadi waktu penting bagi umat untuk menitipkan doa kepada para dewa.
“Tujuh hari kemudian Tahun Baru. Jadi di waktu ini umat berdoa, menitipkan pesan, bagaimana doa dan harapan di tahun depan,” ujarnya.
Tahun Imlek 2577 atau 2026 Masehi dikenal sebagai Tahun Kuda Api. Menurut Leo, unsur api yang dominan pada tahun ini membawa pesan agar umat lebih banyak menahan diri serta memperbanyak doa.
Baca Juga : Ratusan Umat Tionghoa Padati Klenteng Po An Kiong, Rayakan Imlek dengan Sembahyang Bersama
Baca Juga : Polresta Banjarmasin Turunkan Ratusan Personel Gabungan Amankan Tahun Baru 2026
“Tahun ini unsurnya api di langit, api di bumi, sementara manusia unsurnya air. Api dan air ini tidak pernah benar-benar damai. Kita bisa lihat sekarang, musibah masih sering terjadi dan belum selesai,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, pihak kelenteng mengajak umat untuk lebih introspektif dan menjaga keharmonisan, baik secara spiritual maupun sosial.
Menariknya, perayaan Imlek tahun ini berbarengan dengan datangnya bulan Ramadan. Untuk menjaga toleransi dan kekhusyukan bersama, pengurus kelenteng memutuskan meredam sejumlah perayaan yang berpotensi menimbulkan kebisingan.
“Biasanya ada barongsai, tapi tahun ini kami harapkan tidak usah dulu. Takutnya mengganggu, apalagi bersamaan dengan Ramadan. Tahun ini lebih banyak sembahyang dan berdoa saja. Itu pesan paling mendasar,” tuturnya.
Kelenteng Karta Rahardja yang juga dikenal sebagai Kelenteng Po An Kiong selama ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang perjumpaan budaya dan spiritual warga Tionghoa di Banjarmasin.
“Setiap menjelang Imlek, ritual pengantaran dewa menjadi penanda dimulainya rangkaian doa dan persiapan menyambut tahun baru,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi





