BARABAI, klikkalsel.com – Memasuki era digitalisasi, para anak muda generasi milenial tak hentinya melakukan berbagai macam inovasi untuk berbagai macam kemajuan. Salah satu bentuknya adalah yang dilakukan sejumlah pemuda yang tergabung dalam Bank Sampah Urang Banua Asli Bawan (Urbandewan) dan Wodjaotech project yang meluncurkan platform Ratikita.id di BFC Najwa Barabai, Kamis (11/11/2021).
Inovasi digital Ratikita.id tersebut merupakan sebuah gerakan milenial peduli sampah yang bertujuan mendigitalkan bisnis sampah di Bumi Murakata. Tak tanggung-tanggung, inovasi tersebut merupakan platform pertama yang mengakomodir Bank Sampah guna memasifkan gerakan menjadikan sampah bernilai ekonomis
Muliyadi Saputra yang merupakan Mahasiswa S2 Jurusan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat dan Founder Bank Sampah Urbandewan Jum’at (12/11/2021) menjelaskan, Peluncuran aplikasi Ratikita.id tersebut merupakan suatu bentuk gerakan nyata para milenial Bumi Murakata dalam mencintai lingkungan.
Lebih lanjut, Ia bersama timnya bertekad menjadikan bank sampahnya menjadi perusahaan yang ramah lingkungan dengan mendorong terciptanya ekonomi kreatif dan inovasi digital di Kalimantan, Indonesia, bahkan Internasional.
Menurutnya, Rata-rata pencatatan transaksi yang sekarang dilakukan manual pakai buku yang pastinya memerlukan anggaran dan apabila terkena air bisa rusak dan hilang. Hadirnya inovasi digital ini untuk mengatasi permasalahan tersebut, pencatatannya bisa lebih aman serta adanya transparansi transaksi.
Dijelaskan, Platform tersebut mengadopsi dari berbagai aplikasi digital yang saat ini berkembang. Fitur yang tersedia dalam aplikasi tersebut ada beragam.
Diawali dengan fitur saldo, yang menampilkan jumlah uang yang dimiliki berdasarkan transaksi sampah yang telah dilakukan.
Kemudian, Tersedia pula fitur jemputan yang digunakan untuk nasabah yang ingin menabung, akan tetapi sampahnya ingin dijemput di lokasi.
“Untuk pemakaian fitur ini yang sekarang masih kita batasi dalam radius 7 km. Serta dihargai Rp 2.500 untuk setiap kilometernya,” tuturnya.
Lebih lanjut, adapula fitur setor sampah dan cairkan saldo yang menampilkan sebuah barcode dan berguna bagi nasabah untuk menabung dan mencairkan saldonya secara digital.
Selanjutnya, terdapat pula fitur harga update yang memperlihatkan panatauan harga setor beragam macam sampah dengan variasi harganya.
“Menariknya dari fitur ini, ada nilai edukasi di dalamnya. Disana terlihat bahwa sampah itu ada sangat beragam dan harganya pun sangat bervariasi. Biasanya kita tahu kertas itu satu macam saja diluaran, kalau disini terlihat ada empat macam jenis kertas dan harganya juga sangat bervariasi,” jelasnya.
Selain itu, ada fitur Top Nasabah, yang tentunya sebagai pemantik atau stimulus bagi para nasabah untuk menabung. Disini juga terdapat transparansi berapa jumlah menyetor, serta jumlah saldo dimiliki. Lebihnya lagi, fitur ini akan update secara realtime atau otomatis dan dapat dilihat semua orang.
Pada kesempatan tersebut, Mulyadi dan timnya juga memaparkan sebuah rencana besar untuk Bank Sampahnya yang bergerak di bidang industri, komitmen lingkungan hidup, serta ekonomi kreatif. Dimana kedepannya akan mengusahakan untuk mencari cara dapat menampung sampah medis dan beragam sampah lain untuk dapat pula dirangkul dan dijadikan bernilai ekonomis.
“Target kita sangat besar, mulai dari tahun 2022 yang berusaha dapat merangkul sampah medis di berbagai fasilitas kesehatan agar bernilai ekonomis, serta pada tahun 2025 nantinya juga bermimpi mempunyai pabrik daur ulang sendiri. Alhamdulillah, untuk sekarang melalui hasil Bank Sampah ini bisa menghidupi biaya sehari-hari serta biaya kuliah,” tutupnya.
Sementara itu, Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) HST, Syafaat secara seremonial meresmikan langsung peluncuran platform Ratikita.id.
“Selamat dan sukses atas peluncuran platform Ratikita.id yang merupakan sebuah terobosan para pemuda yang rata-rata masih mahasiswa asli Bumi Murakata yang pertama di Kalimantan Selatan,” tuturnya.
Menurutnya, Semakin banyak sampah yang bisa dikelola bank sampah, maka semakin meringankan Pemerintah Daerah pula dalam mengatasi masalah sampah. Hal itu merupakan upaya penanganan di bagian hulu permasalahan, terlebih TPA HST yang ada di Desa Telang saat ini sudah hampir penuh.
Lebih lanjut, dengan Hulu Sungai Tengah yang dihuni 260 ribu jiwa, maka secara rata-rata warga Bumi Murakata menghasilkan 40 ton sampah perhari. Tentunya, ini merupakan potensi yang sangat besar yang bisa dikerjakan bank sampah kedepannya.
Dijelaskan, saat ini sudah ada 10 bank sampah yang beroperasi di Bumi Murakata. Selanjutnya, pihaknya akan terus berupaya menggalakan aktivasi bank sampah dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga tingkat desa-desa.
“Ketika melihat bank sampah semakin banyak bermunculan, maka sampah yang dulu dianggap sebagai buangan, kini menjadi sesuatu yang berkah menghasilkan rupiah bahkan bisa menjadi sesuatu yang disedekahkan,” tutupnya. (dayat)
Editor : Akhmad





