Dinsos Perhatikan Masa Depan Anak dari Guru yang Meninggal Akibat Dampak Karhutla di Banjarmasin

Dinas Sosial Kota Banjarmasin saat mendatangi kediaman keluarga dari Guru yang meninggal akibat dampak buruk Kabut Asap di Banjarmasin

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Perhatian terhadap masa depan anak menjadi salah satu hal yang terus diupayakan oleh Pemko Banjarmasin melalui Dinas Sosial. Terlebih baru-baru ini ada seorang guru yang meninggal akibat buruknya udara akibat dampak dari kabut asap.

Meninggalnya salah seorang guru yang sebelumnya mengajar di SDN Tanjung Pagar 3 tersebut akibat penyakit asma yang diperparah dengan kabut asap yang tak kunjung berhenti.

Guru tersebut pun meninggalkan seorang anak yang baru berusia 3 tahun, dan sekarang tinggal bersama kakek-neneknya di kawasan Kelurahan Sungai Andai, Banjarmasin Utara.

Guna memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut, Dinas Sosial Banjarmasin, mendatangi kediaman keluarga anak tersebut untuk melihat langsung kondisinya.

Kepala Dinas Sosial Banjarmasin, Eka Rahayu Normasari, bersama jajaran terkait mengatakan bahwa kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat kondisi keluarga sekaligus memastikan kebutuhan anak yang kini berada dalam pengasuhan keluarga setelah ditinggal ibunya.

“Kami pada hari ini melaksanakan kunjungan ke tempat di mana salah satu guru di Pemerintah Kota Banjarmasin yang meninggal,” katanya.

Eka menjelaskan, perhatian Dinsos tidak serta-merta membuat anak tersebut masuk dalam kategori penerima bantuan langsung, mengingat masih terdapat keluarga yang memberikan pengasuhan.

“Panggilan Dinas Sosial itu sebenarnya bukan karena permasalahan ini (Guru Meninggal), tetapi karena adanya anak yang pada saat ini memang butuh perhatian untuk mendapatkan bimbingan,” tuturnya.

“Tapi kami di Dinas Sosial ini kan tidak dapat secara langsung untuk melakukan intervensi, karena anak ini masih punya keluarga, bukan dalam kategori anak terlantar,” lanjutnya.

Meski demikian, Dinsos Banjarmasin tetap membuka peluang untuk membantu melalui program pemerintah yang sesuai dengan kondisi keluarga.

Salah satu opsi yang akan ditelusuri adalah kemungkinan anak tersebut mendapatkan dukungan melalui Program Indonesia Pintar (PIP).

Baca Juga : UNISKA Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla dengan Siapkan Tim Damkar

Baca Juga : Kapolres Batola Turun ke Lokasi Karhutla Handil Bakti, Tiga Titik Terbakar Hebat

“Hanya saja, mungkin kami akan melakukan verifikasi ulang, apakah sangat dimungkinkan atau tidak nantinya untuk membantu masuk di dalam Program Indonesia Pintar untuk anaknya,” ungkapnya.

Proses tersebut nantinya akan melihat kondisi keluarga berdasarkan data kesejahteraan yang menjadi dasar penentuan penerima bantuan

“Kita coba untuk memverifikasi desilnya, apakah dia adalah desil yang layak untuk menerima bantuan atau tidak. Mudah-mudahan sesuai untuk yang bisa atau dapat mendapatkan bantuan,” harapnya.

Ketua RT 55 Sungai Andai, Abdul Hayat, menyambut baik perhatian yang diberikan pemerintah kepada keluarga almarhumah.

Menurutnya, kehadiran jajaran pemerintah di tengah keluarga menjadi bentuk kepedulian yang dapat menguatkan mereka setelah menghadapi kehilangan.

“Pertama kami sebagai masyarakat di sini mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang sekiranya memperhatikan akan kemaslahatan warga kami,” ucapnya.

“Tadi ada dari Dinas Sosial, dari kecamatan, kelurahan, dan lain sebagainya, yang sekiranya mengunjungi kami, untuk membesarkan hati kami dengan adanya musibah-musibah seperti ini,” terangnya.

Ia berharap perhatian tersebut tidak berhenti pada kunjungan, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk dukungan yang membantu anak tersebut tetap mendapatkan hak pendidikannya.

“Kami juga berharap untuk kedepannya supaya lebih bisa membatu, kebetulan kan ada anaknya, almarhumah, Jadi minta dukungan agar anak tersebut bisa mendapat KIP dan sebagainya,” harapnya.

Saat ini, anak tersebut tinggal bersama kakek dan neneknya. Kondisi tersebut menjadi perhatian warga karena keduanya juga memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kasihan dia karena sekarang kan dia ikut dengan kakek-neneknya. Dan kebetulan kakek-neneknya juga sebagai buruh,” ungkapnya lagi.

“Kakek, beliau bertugas di masjid sebagai Marbot, atau sejenis kayak gitu. Bisa dibilang tukang juga serabutanlah bahasanya. Tapi istilahnya kan aktifnya di masjid kayak gitu,” jelasnya

Bagi warga, dukungan terhadap anak tersebut bukan sekadar bantuan untuk saat ini. Lebih dari itu, mereka berharap ada jalan agar pendidikan dan masa depannya tetap terjamin meski harus tumbuh tanpa didampingi sang ibu.

“Harapan konkret kami ya gitu untuk masa depannya anak itu salah satunya,” pungkasnya.(fachrul)

Editor: Amran