MARTAPURA, klikkalsel.com – Sudah sepekan banjir merendam Desa Sungai Tabuk Keramat, Jalan Gerilya, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Air setinggi lutut hingga sepinggang orang dewasa tak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga memunculkan rasa takut kehilangan harta benda dan kerusakan rumah yang kian parah.
Rumah-rumah warga di bantaran Sungai Martapura menjadi yang paling terdampak. Genangan air yang tak kunjung surut memaksa sebagian warga mengungsi, namun pada siang hari mereka kembali ke rumah untuk berjaga.
“Siang kami datang melihat kondisi rumah. Takut ada yang bemaling, jukung warga saja ada yang hilang,” ujar Lina, warga setempat, Senin (5/1/2026).
Menurut Lina, air mulai naik sejak Senin (29/12/2025) lalu dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Di dalam rumah, ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa. Akibat terendam cukup lama, struktur rumah warga mulai rusak.
“Dinding sama lantai banyak yang lepas karena air pasang terus. Rumah jadi tidak aman lagi,” katanya.
Baca Juga : Menteri Sosial didampingi Sekdaprov Sampaikan Uraian Bantuan Yang Bakal Diterima Korban Banjir Kalsel
Baca Juga : Klikkalsel.com Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Keramat Sungai Tabuk
Banjir juga membawa ancaman keselamatan. Warga mengaku kerap menemukan ular masuk ke dalam rumah saat air naik. Selain itu, bahan pangan yang disimpan di rumah, termasuk banih padi, dipindahkan ketempat lebih tinggi. Lahan pertanian atau pahumaan milik warga pun dilaporkan tenggelam.
“Banih padi di rumah dipindah ke tempat tinggi, pahumaan juga tenggelam semua. Kami bingung mau mulai dari mana lagi,” tutur Lina dengan nada pasrah.
Di tengah kondisi yang kian sulit, warga mengeluhkan bantuan yang belum merata. Lina menyebut masih banyak warga terdampak yang belum menerima bantuan logistik, baik karena jumlah bantuan yang terbatas maupun penyaluran yang tidak menyeluruh.
“Banyak yang kada kebagian bantuan. Padahal kami sama-sama terdampak,” keluhnya.
Warga berharap perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait, tidak hanya dalam penyaluran bantuan yang adil, tetapi juga penanganan banjir jangka panjang.
Pasalnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, banjir tak hanya merendam rumah, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan dan rasa aman masyarakat.
“Kalau boleh saran bantuan diberikan ke rumah warga langsung melalui jalur sungai,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi





