Banjir Mulai Surut di Kalsel, Psikolog Ingatkan Pentingnya Dukungan Psikologis Awal bagi Penyintas

Melinda Bahri,S.Psi,Psikolog Psikolog Klinis

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan sejak akhir 2025 perlahan mulai surut. Namun di balik pemulihan fisik, para penyintas masih menghadapi dampak lain yang tak kalah penting, yakni kondisi psikologis pascabencana.

Psikolog Klinis Melinda Bahri, S.Psi., Psikolog mengingatkan, penanganan psikologis pada fase awal pascabanjir tidak tepat jika langsung disebut sebagai trauma healing. Pendekatan yang lebih sesuai adalah Dukungan Psikologis Awal (DPA).

ā€œUntuk pengungsi terdampak banjir, kita tidak menggunakan istilah trauma healing, tetapi DPA. Trauma healing hanya bisa dilakukan oleh psikolog dan psikiater, sedangkan DPA bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk relawan,ā€ ujarnya, Kamis (22/1/2026).

Menurut Melinda, trauma healing merupakan bentuk intervensi lanjutan yang harus melalui asesmen psikologis terlebih dahulu. Jika seseorang benar-benar teridentifikasi mengalami trauma, barulah dilakukan psikoterapi oleh tenaga profesional.

ā€œSedangkan DPA adalah pertolongan pertama secara psikologis. Tujuannya membantu penyintas agar lebih tenang, merasa aman, dan mendapatkan dukungan,ā€ jelasnya.

Ia menilai, DPA menjadi langkah yang paling realistis diterapkan di wilayah terdampak banjir di Kalimantan Selatan, mengingat keterbatasan jumlah psikolog yang dapat turun langsung ke lapangan.

Baca Juga :Ā APBMI Kalsel Turun ke Lokasi Banjir, Salurkan Bantuan Tunai untuk Warga Sungai Pinang Baru

Baca Juga :Ā BMKG Kalsel Ingatkan Potensi Hujan Lebat Pascabanjir, DPRD Minta Semua Pihak Tetap Waspada

ā€œKalau hanya mengandalkan psikolog tentu tidak cukup. Dengan membekali relawan keterampilan DPA, mereka bisa membantu membangun rasa aman dan harapan bagi para penyintas,ā€ katanya.

Dalam praktiknya, DPA memiliki tiga prinsip utama, yakni lihat (look), dengar (listen), dan hubungkan (link).

Pada prinsip lihat, relawan diminta mengamati kondisi penyintas, khususnya anak-anak, baik secara fisik maupun perilaku. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain luka, gemetar, rasa takut berlebihan, sulit tidur, hingga kecemasan.

Prinsip dengar dilakukan dengan memberikan perhatian penuh melalui mendengarkan cerita dan keluhan penyintas. Relawan diharapkan merespons dengan empati dan menenangkan, tanpa memaksa anak untuk berbicara jika belum siap.

Sementara prinsip hubungkan menekankan pentingnya menghubungkan penyintas dengan keluarga terdekat serta melakukan rujukan ke tenaga profesional seperti dokter, psikolog, atau psikiater apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lanjutan.

Melinda menambahkan, DPA pada anak-anak dapat diperkuat melalui kegiatan sederhana dan menyenangkan seperti bermain, menggambar, dan mendongeng.

ā€œKegiatan ini membantu anak merasa lebih aman dan nyaman sehingga dampak psikologis pascabencana dapat diminimalkan,ā€ pungkasnya. (airlangga)

Editor: Abadi